ANGGOTA Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Aboe Bakar Alhabsyi memenuhi panggilan Mahkamah Kehormatan Dewan Perwakilan Rakyat pada Selasa siang, 14 April 2026. Politikus Partai Keadilan Sejahtera itu tiba pukul 12.12 WIB dan keluar dari ruang MKD DPR pada 13.55 WIB.
Aboe mengatakan bahwa dia memenuhi panggilan MKD perihal ucapannya di rapat Komisi III DPR bersama Badan Nasional Narkotika pada Selasa, 7 April 2026 lalu. Saat itu Aboe menyatakan ulama di Madura, Jawa Timur, terlibat peredaran narkoba.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Jadi panggilan ini saya penuhi dengan baik karena saya merasa bertanggung jawab atas apa yang saya katakan," ucap Aboe selepas memberikan penjelasan di Gedung DPR, Jakarta, pada Selasa.
Aboe kemudian menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat di Jawa Timur, yaitu Kabupaten Bangkalan, Sampang, Sumenep, Pamekasan, hingga Madura. Termasuk kepada ulama-ulama dan tokoh-tokoh masyarakat setempat.
Menurut dia, permintaan maaf itu disampaikan karena ia memilih kosa kata yang keliru. Aboe menuturkan, ucapannya saat rapat menjadi viral di media sosial dan menimbulkan polemik terutama di kalangan ulama di Madura dan daerah sekitarnya. Dia merasa ucapannya menyinggung masyarakat di sana.
"Minta maaf sedalam-dalamnya karena menurut saya memang bahasa saya terlalu globalisir dan salah. Sekali lagi saya minta maaf," kata dia yang sempat meneteskan air mata.
Aboe mengklaim bahwa ucapannya tidak bermaksud untuk menyudutkan ulama maupun pondok pesantren. Semata-mata ia ingin menunjukkan keprihatinan atas peredaran narkoba di lingkungan pesantren sehingga dia berharap itu bisa menjadi perhatian BNN.
Namun akibat pemilihan kata yang kurang tepat, ia mengakui ucapannya bisa disalahpahami sebagai bentuk penghinaan terhadap ulama dan pesantren. Meski kemudian ia menggarisbawahi bahwa sedikitpun tak ada niat itu.
"Saya mengajak semua pihak, termasuk lembaga pendidikan keagamaan, untuk meningkatkan kewaspadaan dan perkuat upaya pencegahan. Namun cara penyampaian saya yang kurang tepat sehingga menimbulkan multitafsir," tutur Aboe.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban, Aboe berupaya mendatangi semua tokoh-tokoh agama kecewa atas ucapannya. Dia ingin menegaskan bahwa ulama dan pesantren adalah pilar utama dalam menjaga moral dan akhlak bangsa.
Dalam konteks pemberantasan narkoba, Aboe justru memandang bahwa peran ulama sangat strategis sebagai garda terdepan dalam edukasi dan pencegahan. Dia menjadikan peristiwa ini untuk jadi pelajaran berharga untuk lebih berhati-hati dalam menyampaikan pandangan ke ruang publik.
"Saya berkomitmen untuk terus menjaga etika, kehormatan dan marwah sebagai anggota DPR Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia," tutur dia.
Aboe tidak menjawab ketika ditanya sanksi apa yang diberikan oleh MKD kepadanya. Begitu pula Wakil Ketua MKD Imron Amin yang menolak berkomentar tentang hasil pemanggilan Aboe dengan alasan ia buru-buru pergi ke bandar udara.
Pemanggilan Aboe ini juga tertuang dalam surat MKD nomor 148/PW.09/05/2026 yang dikeluarkan pada Senin, 13 April 2026. Dalam surat yang ditandatangani oleh Wakil Ketua MKD DPR Imron Amin itu, MKD memanggil Aboe Bakar untuk meminta penjelasannya.
Akibat maraknya pemberitaan yang menjadi perhatian di masyarakat lantaran menyoroti ucapan Habib, maka MKD memutuskan menghelat rapat kerja untuk menghadirkan langsung politikus PKS tersebut.
Adapun muasal perkara Habib Aboe ini adalah saat ia menghadiri rapat Komisi III dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Selasa, 7 April lalu. Kala itu Aboe menegaskan pentingnya kolaborasi antara BNN, Polri, pemerintah daerah, hingga seluruh elemen masyarakat dalam memberantas peredaran narkoba.
Tanpa kolaborasi berbagai unsur, kata dia, akan akan sulit memerangi narkoba. Habib kemudian mencontohkan bagaimana situasi pemberantasan narkoda di Madura, yang ditengarai melibatkan ulama dan pondok pesantren di sana.
"Contoh, Madura. Saya itu kaget, Pak, ulama sudah mulai ikut terlibat juga dengan narkotika, coba cek benar tidak? Pesantren-pesantren itu juga, Pak. Ini ada apa? Ternyata ada cuan di situ, Pak. Ada cuan di situ, cuan-nya banyak, bukan dikit," kata Habib Selasa pekan lalu.
Dia mengaku khawatir hal itu disebabkan oleh campur tangan pebisnis-pebisnis besar. "Saya khawatir yang bermain ya yang punya posisi-posisi, Pak, karena ini atau pebisnis-pebisnis besar," ujarnya.















































