CANTIKA.COM, Jakarta - Selamat ulang tahun Jakarta yang kini memasuki usia ke-499 tahun, nyaris lima abad. Di tengah laju pembangunan yang terus mengubah wajah ibu kota, ada satu pertanyaan yang kerap muncul: apa yang masih tersisa dari Jakarta?
Jawabannya mungkin tidak hanya ditemukan di bangunan bersejarah, kerak telor atau lenong. Di kawasan Terogong, Jakarta Selatan, jejak Jakarta juga hidup dalam selembar kain yang menyimpan cerita tentang pohon mengkudu hingga buah ceremai.
Perajin batik Betawi dari Artisi Batik Indonesia Aryani Tina Sitio merawat ingatan tentang Jakarta melalui Batik Terogong. Bagi Tina, batik bukan hanya produk fashion atau cendera mata, tetapi medium untuk menyimpan kisah, filosofi hidup, sekaligus identitas masyarakat Betawi yang terus beradaptasi dengan zaman.
"Kalau orang datang ke Jakarta, saya ingin mereka bisa membawa pulang sesuatu yang benar-benar berasal dari Jakarta," ujarnya saat ditemui di Jakarta, Jumat, 12 Juni 2026.
Menurut Tina, salah satu tantangan terbesar memperkenalkan batik Betawi adalah menyesuaikannya dengan kebutuhan masyarakat modern. Karena itu, Batik Terogong tidak hanya hadir dalam bentuk kain panjang tradisional, tetapi juga berbagai produk yang lebih ringan dan mudah digunakan sehari-hari.
Ia mengamati banyak konsumen kini lebih menyukai aksesori berbahan batik yang praktis. Misalnya syal tipis, scarf berpotongan serong, atau kain multifungsi yang mudah dibawa saat bepergian. "Banyak yang suka model ringan karena bisa dipakai di leher atau dibawa ke luar negeri. Orang asing juga suka karena praktis," katanya.
Bahkan, menurut Tina, salah satu penjualan awal produknya justru terjadi di luar negeri. Kain-kain batik yang dibawa pelanggan ke India, Belanda, hingga Inggris menjadi sarana diplomasi budaya yang sederhana namun efektif. "Sering kali mereka ditanya, 'Ini kain apa?' Lalu mereka menjelaskan kalau ini batik dari Jakarta. Dari situ orang jadi mengenal budaya kita," ujarnya.
Batik Terogong karya perajin batik dari Artisi Batik Indonesia Aryani Tina Sitio/Foto: Doc. Pribadi
Filosofi Mengkudu untuk Laki-Laki
Di balik motif-motif Batik Terogong yang kini semakin beragam, Tina menceritakan dua motif yang dianggap paling mewakili akar awal perjalanan batiknya. Yang pertama adalah motif mengkudu. Motif ini lahir dari pengalaman pribadi dan keseharian keluarganya. Di rumah masa kecilnya tumbuh pohon mengkudu dan ceremai yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
"Di rumah ada pohon mengkudu dan pohon ceremai. Itu bagian dari keseharian keluarga kami. Kami makan bersama di bawah pohon, membuat rujak ceremai, bahkan punya tradisi memasak nasi goreng daun mengkudu setiap habis Lebaran," kenangnya.
Dari pengalaman tersebut lahir motif mengkudu yang kemudian menjadi salah satu identitas Batik Terogong sekitar tahun 2012 hingga 2013. Motif daun dan buah mengkudu kerap digunakan dalam desain yang ditujukan untuk laki-laki.
"Laki-laki itu harus tekun dan sabar. Kalau tidak tekun dan tidak sabar, dia tidak akan mendapatkan apa-apa. Mengkudu menjadi simbol semangat bekerja dan ketekunan," ujarnya.
Ceremai, Simbol Perempuan Betawi
Jika mengkudu melambangkan karakter laki-laki, maka ceremai menjadi simbol perempuan dalam semesta Batik Terogong. Tina mengaku hampir selalu memasukkan unsur ceremai dalam berbagai desain yang merepresentasikan perempuan. Menurutnya, perempuan adalah sumber kehidupan dan energi dalam keluarga.
"Perempuan itu harus ceria dan ramai. Kalau perempuan tidak ceria, dunia terasa kusam. Kalau dia tidak ramai, anak-anak juga tidak semangat," katanya sambil tertawa.
Dalam pandangan budaya Betawi yang ia pahami sejak kecil, sosok ibu memang identik dengan kehangatan, keceriaan, sekaligus ketegasan. "Ibu-ibu itu memang harus cerewet dalam arti yang positif. Harus hidup, harus aktif, harus menghidupkan suasana," lanjutnya.
Karena itulah motif ceremai tidak hanya hadir sebagai ornamen visual, tetapi juga membawa pesan tentang peran perempuan sebagai penjaga kehidupan keluarga.
Batik yang Terus Beradaptasi
Seiring perkembangan zaman, produksi Batik Terogong juga mengalami perubahan. Jika dahulu setiap motif dirancang dengan filosofi yang sangat spesifik, kini banyak desain lahir berdasarkan kebutuhan pelanggan.
Konsumen datang dengan berbagai permintaan, mulai dari seragam kantor, kebutuhan komunitas, hingga suvenir acara tertentu. "Mereka datang dengan konsep sendiri. Misalnya ingin warna tertentu atau memasukkan unsur tanaman dan simbol tertentu. Kami menyesuaikan," kata Tina.
Meski demikian, ia tetap berharap filosofi awal Batik Terogong tidak hilang begitu saja. Baginya, motif bukan sekadar gambar dekoratif. Setiap garis dan ornamen menyimpan cerita tentang Jakarta yang sesungguhnya, Jakarta yang tumbuh dari halaman rumah, tradisi keluarga, serta nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Di usia Jakarta yang hampir menyentuh lima abad, Batik Terogong menjadi pengingat bahwa identitas kota tidak hanya dibangun oleh gedung pencakar langit atau jalan-jalan baru. Identitas itu juga hidup dalam cerita sederhana tentang pohon mengkudu dan ceremai yang diabadikan di atas kain.
Melalui tangan para perajin seperti Aryani Tina Sitio, Jakarta tidak hanya dikenang sebagai kota metropolitan, tetapi juga sebagai ruang budaya yang terus menjaga akar dan memorinya. Dan, selama kisah-kisah itu masih ditorehkan di atas kain batik, Jakarta akan selalu memiliki cara untuk menceritakan dirinya kepada dunia.
ECKA PRAMITA
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.
















































