PENELITI dari Boston College Amerika Serikat, Hanqin Tian, mengungkap peningkatan emisi gas rumah kaca dari pertanian padi meningkat sebanyak dua kali lipat dalam 60 tahun terakhir. Peningkatan ini terjadi karena lahan sawah yang tergenang air melepaskan metana dan nitrogen dioksida yang menunjang peningkatan emisi gas rumah kaca di atmosfer, dan bisa berdampak buruk terhadap kondisi iklim global.
Hal ini membuat para ahli iklim dilema karena pertanian padi termasuk sektor yang sentral dan berkaitan dengan pangan manusia. Di sisi lain dengan masifnya lahan pertanian itu malah membuat emisi ke atmosfer terus bertambah. “Tujuan kami untuk mengidentifikasi jalur mitigasi yang realistis,” kata Hanqin dikutip dari laporan Earth, Senin, 25 Mei 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Studi ihwal peningkatan emisi dari pertanian padi ini sudah diterbitkan Hanqin bersama timnya dalam jurnal Nature Food pada 22 Mei lalu. Disampaikan di sana, satu dekade terakhir sawah global menghasilkan emisi setara karbon dioksida sebesar 1.090 ± 350 Tg per tahun, dengan intensitas emisi 0,33 ± 0,08 MgCO2eq per juta kilokalori.
Namun, dalam studi ini menunjukkan bahwa beban iklim pada tanaman padi tidak terdistribusi secara merata di seluruh kawasan dunia. Asia Timur dianggap menjadi penyumbang utama karena emisi metana di daerah ini sangat terkait dengan penggunaan jerami dalam jumlah besar. Hal ini menandakan mitigasi iklim sangat diperlukan, meskipun dalam koridor pengelolaan lahan pertanian.
Para peneliti menemukan bahwa pengelolaan pertanian yang lebih baik dapat mengurangi emisi sekitar 10 persen tanpa mengurangi hasil panen. Caranya bisa dengan pengelolaan air untuk mengurangi pembentukan gas metana, dan pengolahan sisa tanaman ke tanah yang tergenang untuk minimalisir penggunaan pupuk nitrogen.
Hal ini dinilai sangat penting untuk ketahanan pangan yang juga ramah emisi, terutama di seluruh Asia yang skala pertaniannya semakin meluas. “Dan memang, ini telah menjadi bagian dari masalah iklim. Tetapi ini juga bisa menjadi bagian dari solusi iklim, jika cara penanamannya mulai berubah,” kata peneliti.














































