Polisi Selidiki Dugaan Pembunuhan Anak SD di Sragen

7 hours ago 3

KEPOLISIAN Resor atau Polres Sragen menyelidiki secara intensif kasus kematian tragis seorang anak perempuan berinisial B, 11 tahun, yang ditemukan di rumahnya di Dukuh Bromoasri, Desa Dawung, Kecamatan Jenar, Kabupaten Sragen, pada Jumat sore, 5 Juni 2026. Korban ditemukan kali pertama oleh ibunya sepulang kerja, dalam kondisi terluka parah akibat senjata tajam pada bagian wajah dan tangannya.

Dari serangkaian penyelidikan yang dilakukan hingga Senin, 8 Juni 2026 ini, polisi mengungkap sejumlah fakta baru dan kini telah mengantongi arah pihak yang diduga terlibat dalam kematian korban. Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Sragen Ajun Komisaris Catur Agus Yudo Praseno mengatakan dalam kasus ini penyidik telah melakukan serangkaian pemeriksaan.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Kami menggunakan metode penyelidikan konvensional, scientific investigation, hingga analisis digital untuk mengungkap pelaku pembunuhan anak ini,” ujar Catur kepada wartawan di Sragen, Senin, 8 Juni 2026.

Sejak laporan diterima, kata Catur, polisi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara atau TKP. Selain itu, polisi juga melakukan analisis digital melalui pengelolaan CCTV dan perangkat digital lainnya. Dari hasil pemeriksaan medis sementara, polisi memastikan korban yang merupakan pelajar kelas V sekolah dasar itu meninggal dunia akibat mati lemas yang diduga dipicu tindakan kekerasan.

"Ditemukan pula adanya kerusakan pembuluh darah besar pada bagian wajah akibat kekerasan," katanya.

Temuan tersebut menjadi salah satu petunjuk penting dalam mengungkap rangkaian kejadian yang menyebabkan korban meninggal. Selain itu, polisi juga memastikan tidak ditemukan indikasi kekerasan seksual terhadap korban sebagaimana sempat menjadi perhatian publik sejak kasus tersebut mencuat.

Dalam proses penyelidikan, polisi berhasil mengamankan sejumlah barang bukti yang diduga berkaitan langsung dengan tindak pidana tersebut. Barang bukti itu antara lain alat yang diduga digunakan pelaku, jejak kaki berlumuran darah, bantal yang diduga digunakan, hingga sejumlah sidik jari laten yang ditemukan di lokasi.

Penyidik juga menemukan luka serius pada tubuh korban, termasuk kondisi jari tengah korban yang putus akibat kekerasan yang dialaminya. "Barang bukti yang kami temukan cukup signifikan, termasuk jejak darah, alat yang diduga digunakan pelaku, serta sejumlah benda di sekitar lokasi kejadian yang saat ini masih kami dalami keterkaitannya," ungkapnya.

Seluruh barang bukti tersebut saat ini masih menjalani pemeriksaan laboratorium forensik untuk memperkuat konstruksi perkara dan mengidentifikasi pelaku. Meski belum menetapkan tersangka, polisi mengungkapkan bahwa penyelidikan telah mengarah kepada satu pihak yang diduga memiliki keterkaitan dengan kematian korban.

"Namun kami tetap mengedepankan asas praduga tak bersalah. Semua alat bukti harus kami kumpulkan secara utuh sehingga ketika dilakukan upaya hukum, tidak ada celah bagi pelaku untuk mengelak dari perbuatannya," ujar Catur.

Sementara itu, penyidik masih terus mendalami motif di balik peristiwa tersebut, termasuk keterkaitan antara hilangnya sepeda motor milik keluarga korban dengan kematian bocah tersebut. Polisi memastikan proses penyidikan masih terus berjalan dengan dukungan hasil laboratorium forensik, analisis CCTV, pemeriksaan perangkat digital, serta keterangan para saksi yang telah dimintai keterangan.

Sebelumnya, pelajar kelas V sekolah dasar tersebut ditemukan meninggal di dalam rumahnya pada Jumat sore lalu sekitar pukul 16.00 WIB. Saat ditemukan oleh ibunya, korban masih mengenakan seragam pramuka dan mengalami luka-luka akibat senjata tajam di bagian wajah dan tangan.

Peristiwa itu sempat menggemparkan warga setempat. Selain ditemukan bercak darah dan jejak kaki di dalam rumah, sepeda motor Honda Vario warna biru milik keluarga korban juga diketahui hilang sehingga sempat muncul dugaan tindak pencurian dengan kekerasan.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |