Penjualan Pertamax Anjlok, Gerai Pertashop Gulung Tikar

6 hours ago 4

KENAIKAN harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax memukul telak bisnis Pertashop di berbagai daerah. Himpunan Pertashop Merah Putih Indonesia (HPMPI) melaporkan bahwa penjualan Pertamax secara nasional anjlok hingga 60 persen, memicu ratusan gerai Pertashop di berbagai daerah gulung tikar.

Ketua Umum DPP HPMPI Steven mengungkapkan situasi yang dihadapi para pengusaha Pertashop saat ini sudah masuk dalam fase kritis. Penurunan omzet yang drastis terjadi hanya dalam hitungan hari setelah penyesuaian harga diumumkan. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

"Nasib pengusaha Pertashop secara nasional pasca kenaikan Pertamax cukup berat dan terancam. Penurunan penjualan bisa mencapai 50 persen hingga 60 persen hanya dalam hitungan hari," ujar Steven saat dihubungi Senin, 22 Juni 2026. 

Steven menjelaskan dampak penurunan volume penjualan Pertamax merata di seluruh daerah. Dampak terparah terjadi di DI Yogyakarta, volume penjualan yang semula mencapai 800 hingga 2.000 liter per hari, kini merosot tajam menjadi hanya 200 hingga 700 liter per hari. Sumatera Barat, penjualan langsung anjlok hingga 50 persen di hari-hari pertama.  

"Bengkulu termasuk yang mengalami penurunan omset penjualan terparah mencapai 70 persen," ungkap Steven. Lanjutnya, dari total 201 unit Pertashop di Bengkulu, kini hanya tersisa 150 unit yang masih aktif beroperasi. 

Menurut Steven, penyebab utama rontoknya bisnis Pertashop adalah perbedaan harga yang terlalu jauh antara Pertamax dengan Pertalite yang disubsidi pemerintah. Akibatnya, konsumen berbondong-bondong beralih ke Pertalite, meskipun harus mengantre panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). 

Kondisi para pengusaha kecil ini kian diperparah oleh maraknya persaingan tidak sehat di lapangan. "Kondisi semakin dipersulit dengan maraknya persaingan dari pengecer ilegal atau Pertamini," imbuh Steven.

Akibat sepinya pembeli, banyak pengusaha yang tidak mampu lagi menutup biaya operasional. Pilihan pahit pun harus diambil demi menekan kerugian. "Banyak Pertashop terpaksa tutup dan merumahkan pekerjanya," tegasnya. 

Melihat kondisi yang kian kritis, HPMPI mendesak pemerintah untuk segera turun tangan memberikan keberpihakan nyata kepada para pengusaha kecil. HPMPI melayangkan dua usulan strategis untuk menyelamatkan bisnis Pertashop yang tersisa. 

HPMPI mengajukan usulan pemerintah membuat kebijakan gerai Pertashop diperbolehkan menjual Pertalite. Jika opsi pertama tidak memungkinkan, pemerintah diminta mengerahkan aparat untuk menindak tegas warung-warung atau Pertamini yang menjual Pertalite dan solar tanpa izin resmi. 

"Kami mengusulkan pemerintah membolehkan Pertashop menjual BBM bersubsidi. Kalau pemerintah tidak bisa memperkenankan kami menjual Pertalite, mohon ada tindakan nyata dari aparat untuk menindak warung yang menjual BBM subsidi yang tidak memiliki izin resmi," pungkas Steven. 

Sementara itu, Mahendra, 37, warga Kelurahan Sidomulyo mengaku meski bukan pengguna Pertamax, namun kenaikan harga Pertamax tetap memberi dampak terhadap dia dan keluarganya.

"Jika ada yang bilang dampak kenaikan Pertamax itu hanya bagi golongan menengah ke atas, itu bohong. Kami masyarakat bawah juga kena imbasnya. Apa-apa sekarang pada mahal, semua jadi naik," ungkapnya saat ditemui mengantri BBM di SPBU KM 8 kota Bengkulu. 

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |