Iran Tangguhkan MoU dengan AS Usai 50 Tewas dalam Serangan

23 hours ago 6

IRAN menyatakan nota kesepahaman (memorandum of understanding atau MoU) dengan Amerika Serikat secara efektif ditangguhkan. Hal ini terjadi setelah Washington melancarkan serangkaian serangan udara. Pemerintah Iran menyatakan serangan AS telah menewaskan sedikitnya 50 orang dan melukai lebih dari 500 lainnya sejak 6 Juli.

Menurut laporan Al Jazeera, Kementerian Kesehatan Iran pada Sabtu, 18 Juli 2026, mengumumkan jumlah korban tersebut beberapa jam setelah Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) melancarkan gelombang serangan udara untuk malam ketujuh berturut-turut ke sejumlah target di Iran.

Serangan itu juga menghantam infrastruktur sipil, termasuk fasilitas desalinasi yang menyebabkan sekitar 10 ribu warga kehilangan akses air bersih.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan Amerika Serikat telah melanggar seluruh komitmen dalam MoU Islamabad yang ditandatangani kedua negara pada bulan lalu.

“Amerika Serikat telah melanggar dan menangguhkan seluruh komitmennya dalam kerangka MoU Islamabad,” kata Gharibabadi pada Sabtu, 18 Juli.

Karena itu, kata Gharibabadi, Iran juga menghentikan pelaksanaan seluruh kewajibannya dalam kesepakatan tersebut.

“Sebagai balasannya, kami juga menangguhkan seluruh komitmen kami dan pelaksanaan kesepakatan itu. Saat ini kami sedang fokus mempertahankan negara,” ujarnya. Gharibabadi diketahui turut terlibat dalam perundingan teknis mengenai MoU tersebut pada awal Juli.

Iran dan AS Saling Tuding

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menuduh Washington telah melanggar setiap aspek MoU dalam sepekan terakhir. Ia menegaskan Iran tidak menghendaki perang dan hanya mempertahankan diri dalam perang yang disebutnya sebagai konflik yang dipaksakan.

Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref juga menilai Amerika Serikat melancarkan serangan bahkan sebelum MoU benar-benar mulai dijalankan. Menurut dia, serangan itu dilakukan meskipun dalam kesepakatan tersebut Iran diberi tanggung jawab mengelola lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Kedua negara kini saling menuduh telah melanggar isi MoU, terutama Pasal 5 yang menjamin keamanan pelayaran komersial di Selat Hormuz.

Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam KTT NATO di Ankara sekitar 10 hari lalu menyatakan MoU yang diteken pada pertengahan Juni telah “berakhir” setelah Iran menyerang kapal tanker di sekitar Selat Hormuz.

Setelah itu, Washington kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan Iran dan mencabut pengecualian sanksi bagi ekspor minyak Iran.

Serangan Terus Berlanjut

Konflik di Selat Hormuz terus meningkat. Stasiun pemompaan air laut dan transformator listrik di fasilitas desalinasi Bunji di Jask, Iran selatan, hancur akibat serangan terbaru Amerika Serikat.

Iran kemudian membalas dengan meluncurkan drone dan rudal ke sejumlah negara Teluk yang menjadi sekutu Amerika Serikat. Kuwait menutup wilayah udaranya setelah dua fasilitas listrik dan desalinasi air menjadi sasaran serangan. Sirene serangan udara juga kembali berbunyi di Bahrain, sedangkan otoritas Yordania menyatakan berhasil mencegat 10 rudal balistik Iran.

Sementara itu, menurut laporan Anadolu, Amerika Serikat kembali menyerang wilayah Sirik dan Hajiabad di Provinsi Hormozgan pada Ahad dini hari, 19 Juli.

CENTCOM menyatakan serangan terbaru dilakukan atas perintah Presiden Donald Trump. Dalam pernyataan yang diunggah di X, militer Amerika menyebut operasi tersebut bertujuan “mengurangi kemampuan Iran mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz” serta “menghukum pasukan Garda Revolusi Iran yang menyerang personel militer Amerika di Yordania.”

Pilihan Editor: Iran Klaim Serang Fasilitas Militer AS di Kuwait dan Bahrain

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |