Amanda Simandjuntak dan Konsistensi Membuka Akses bagi Perempuan dan Generasi Muda

4 hours ago 2

CANTIKA.COM, Jakarta - Bagi Amanda Simandjuntak, teknologi bukan sekadar soal kemampuan menggunakan perangkat atau memahami dunia digital, di mana ada persoalan akses yang lebih besar di baliknya. Mulai dari keterbatasan konektivitas dan perangkat hingga kesempatan mendapatkan pendidikan yang belum merata. Kegelisahan terhadap kesenjangan tersebut kemudian membawanya ikut mendirikan Markoding, organisasi non-profit yang berfokus membekali generasi muda dari kelompok marginal dengan keterampilan digital dan kesiapan memasuki dunia kerja.

Perjalanan itu tidak berhenti pada pelatihan, Co-Founder Markoding ini melihat bahwa akses belajar perlu berjalan beriringan dengan ruang untuk bertumbuh dan kesempatan yang nyata. Bersama Perempuan Inovasi, ia kemudian memperluas gerakannya untuk menjangkau perempuan dan anak muda di berbagai daerah. Program yang semula banyak dilakukan secara daring itu pun berkembang menjadi ekosistem yang menghadirkan hub fisik di Kupang, Bima, Lombok, hingga Jayapura, lengkap dengan akses laptop, internet, pelatihan, komunitas, serta koneksi menuju dunia kerja.

Menariknya, perhatian Amanda terhadap perubahan juga tidak hanya disalurkan melalui teknologi dan pendidikan. Bidang film yang baru digeluti juga membawanya pada medium cerita untuk menyuarakan isu yang dekat dengan kehidupan perempuan, termasuk kekerasan seksual dan kesadaran gender.

Co-Founder Markoding Amanda Simandjuntak memperluas akses pendidikan digital bagi generasi muda marjinal dan perempuan melalui Markoding dan Perempuan Inovasi. Foto: Dok. Amanda Simandjuntak

Beragam langkah tersebut memperlihatkan satu benang merah dalam perjalanan Amanda yaitu, kesungguhan untuk mencari cara agar lebih banyak orang memiliki kesempatan yang sebelumnya mungkin terasa jauh. Ia tidak terpaku pada satu bentuk gerakan, tetapi terus belajar membaca akar persoalan dan mencari ruang yang bisa digunakan untuk menjawabnya.

Dari pendidikan digital, pemberdayaan perempuan, hingga film, konsistensi itulah yang membuat kiprah Amanda tidak sekadar berbicara tentang inovasi, tetapi juga tentang bagaimana sebuah kesempatan bisa diteruskan kepada orang lain. Dalam perbincangan yang hangat, berikut adalah kutipan wawancara Cantika dengan Amanda Simandjuntak tentang perjalanan dan Langkah nyatanya untuk Indonesia.

Apa blind spot terbesar dalam upaya memastikan akses pendidikan digital yang lebih merata di Indonesia, terutama bagi kelompok yang selama ini belum terjangkau?

Amanda Simandjuntak: Menurut aku, tantangan utamanya itu akses connectivity, terutama internet dan sinyal. Selain itu, ada juga keterbatasan perangkat. Banyak orang sudah punya handphone dan akses internet, tetapi belum tentu tahu bagaimana menggunakannya dengan tepat.

Kemudian, literasi digital dan literasi pendidikan juga masih kurang. Misalnya, mereka menggunakan TikTok, bermain gim online, atau sekarang menggunakan AI, tetapi belum memahami batasan dan risikonya. Akibatnya, bisa muncul masalah seperti penyebaran informasi yang salah atau cyberbullying.

Jadi, ketika akses perangkat dan internet mulai terbuka, tantangan berikutnya bukan lagi sekadar soal fasilitas ya?

Amanda Simandjuntak: Iya. Menurutku, setelah akses, tantangan berikutnya adalah mindset, terutama soal kesetaraan akses pendidikan antara laki-laki dan perempuan. Dan ini sebenarnya dimulai dari keluarga sebagai support system terkecil.

Misalnya, dalam satu keluarga hanya ada satu laptop, sering kali laptop itu diprioritaskan untuk anak laki-laki. Atau ketika ada workshop dan pelatihan, anak perempuan tidak selalu mendapatkan izin untuk ikut. Jadi, menurutku, keluarga juga perlu punya pemahaman bahwa perempuan dan laki-laki memiliki hak yang sama untuk mendapatkan akses pendidikan.

Kamudian bagaimana pendekatan Perempuan Inovasi berkembang dari awal dibangun sampai sekarang?

Amanda Simandjuntak: Awalnya kami membuat program secara nasional dan dilakukan secara online. Peserta kemudian diseleksi menjadi Top 40 untuk mengikuti intensive online bootcamp, lalu kami hubungkan dengan kesempatan kerja.

Sejak akhir 2025, kami mulai membangun Digital Hub, Marketing Digital Hub, dan Perempuan Inovasi Hub secara fisik di beberapa daerah seperti Kupang, Bima, Lombok, dan Jayapura. Di sana kami bekerja sama dengan komunitas lokal, menyediakan laptop dan internet, serta pelatihan gratis.

Ini salah satunya untuk menjawab persoalan akses di Indonesia Timur. Harapannya, ke depan kami bisa membuka lebih banyak hub sehingga perempuan di daerah juga punya tempat untuk belajar dan mengembangkan kemampuan digital.

Soal melihat keberhasilan program, apakah jumlah penerima manfaat masih menjadi ukuran utama?

Amanda Simandjuntak: Sebenarnya yang lebih penting lagi itu adalah impact-nya. Misalnya, setelah mengikuti program, apakah mereka mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, mendapatkan promosi, mengalami kenaikan gaji, atau menjadi lebih mudah mendapatkan pekerjaan.

Memang untuk mengukur itu secara detail membutuhkan survei dan sumber daya yang cukup besar. Jadi, saat ini kami juga melihat perubahan mindset dan ketertarikan mereka terhadap teknologi, kemudian melihat perkembangan mereka setelah mengikuti bootcamp, termasuk dari sisi pekerjaan.

Amanda Simandjuntak melalui Perempuan Inovasi membekali keterampilan teknologi dan kesiapan kerja untuk para perempuan Indonesia. Foto: Dok. Amanda Simandjuntak

Kalau melihat perjalanan Perempuan Inovasi, apakah fokusnya sekarang sudah bergeser dari sekadar membuka akses menjadi membangun ekosistem yang bisa menopang perempuan dalam jangka panjang?

Amanda Simandjuntak: Iya. Karena membuka akses saja tidak cukup. Setelah mereka mendapatkan pendidikan dan keterampilan, harus ada ekosistem yang mendukung mereka untuk menerapkannya. Makanya sekarang kami tidak hanya membuat program pelatihan, tetapi juga membangun hub dan bekerja sama dengan komunitas lokal. Harapannya, mereka punya tempat untuk terus belajar, mendapatkan akses terhadap perangkat dan internet, sekaligus bisa terhubung dengan peluang kerja.

Anda banyak berkecimpung di bidang teknologi dan pendidikan. Menurut Anda, inovasi itu sebenarnya berhenti pada menciptakan teknologi baru, atau lebih jauh dari itu?

Amanda Simandjuntak: Saya kalau melihat kata inovasi itu lebih ke bagaimana seseorang benar-benar tahu problem apa yang diselesaikan. Jadi, kita harus memahami dulu akar masalahnya, baru kemudian mencari solusi yang tepat. Solusinya tidak selalu harus mahal atau menggunakan teknologi yang canggih. Yang penting adalah apakah solusi tersebut benar-benar menjawab masalah yang ada.

Berarti, dalam konteks STEM, inovasi juga berkaitan dengan kemampuan melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda?

Amanda Simandjuntak: Iya. Sebenarnya storytelling itu balik lagi, akarnya adalah critical thinking. Dengan critical thinking, kita bisa menghasilkan suatu solusi yang inovatif. Jadi, menurutku teknologi dan bidang kreatif itu sebenarnya punya irisan. Keduanya membutuhkan kemampuan memahami masalah, melihat pola, dan mencari cara untuk menyampaikan atau menyelesaikan sesuatu.

Dari pengalaman Anda, perubahan seperti apa yang ingin Anda dorong melalui teknologi?

Amanda Simandjuntak: Kalau dari saya, mindset. Mindset itu yang paling susah, sesuatu yang paling sulit diubah. Teknologi memang memberikan alat atau sarana. Tapi untuk benar-benar mengubah keadaan, tetap dibutuhkan infrastruktur, fasilitas, kebijakan, dan ekosistem yang mendukung.

Aku berharap ke depannya ada kebijakan yang semakin mendukung perempuan di bidang teknologi, pemberdayaan perempuan secara umum, akses pendidikan, sampai kesetaraan dalam hal penghasilan.

Anda juga banyak melihat langsung tantangan akses di Indonesia Timur. Apa yang paling membuat Anda merasa masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan?

Amanda Simandjuntak: Sekarang kami sedang melakukan pilot project bernama Guru Bot, sebuah aplikasi berbasis AI untuk membantu kemampuan baca, tulis, dan hitung bagi anak SD kelas satu sampai tiga. Karena intervensi seperti Perempuan Inovasi sebenarnya sudah berada di level kesiapan kerja, tapi di beberapa daerah, masih ada anak-anak yang bahkan belum mendapatkan fondasi literasi dan numerasi dengan baik.

Aku pernah melihat anak-anak di daerah pegunungan di Indonesia Timur yang harus naik mobil pickup bersama guru-gurunya ke tempat yang lebih tinggi hanya untuk mencari sinyal karena mereka harus mengikuti ujian TKA secara online. Mereka membawa handphone atau laptop, bahkan ada yang sampai naik pohon untuk mendapatkan sinyal.

Kalau kita melihat dari luar mungkin terasa sedih. Tapi buat mereka, itu seperti field trip. Mereka tetap antusias. Harapan tuh masih ada banget.

Setelah bertahun-tahun mengerjakan isu teknologi, pendidikan, dan pemberdayaan, apa yang membuat Anda tetap ingin melanjutkan pekerjaan ini?

Amanda Simandjuntak: Motivasi itu memang naik turun. Ketika sedang turun, biasanya aku pergi ke lapangan, ketemu anak-anak yang antusias atau perempuan-perempuan yang mengikuti kelas Perempuan Inovasi itu bisa membuat aku recharge lagi.

Sekarang karena lebih banyak mengurus manajemen, aku memang jadi tidak sesering dulu turun ke lapangan. Tapi ketika melihat hasil belajar mereka, terutama saat Demo Day dan mereka mempresentasikan apa yang sudah mereka kerjakan, itu terasa memuaskan karena kita bisa melihat hasil dari proses belajar mereka.

Kalau melihat lima sampai sepuluh tahun ke depan, seperti apa kondisi yang ingin Anda lihat terkait perempuan dan teknologi?

Amanda Simandjuntak: Inginnya nanti itu sudah menjadi hal yang biasa banget, bahkan perempuan tidak perlu minta izin untuk punya karier di teknologi atau mengambil akses pendidikan yang lebih tinggi. Jadi, akses pendidikan dan fasilitas yang setara tanpa diskriminasi gender itu sudah menjadi sesuatu yang normal.

Melihat kondisi hari ini, apakah kita sudah mendekati titik tersebut?

Amanda Simandjuntak: Jujur, masih jauh. PR-nya masih banyak banget dan tantangannya bukan hanya untuk perempuan. Semua orang di Indonesia masih menghadapi berbagai kesulitan, termasuk dari sisi fasilitas.

Direktur TV Tempo Anton Aprianto dan Chief Marketing Officer PT Info Media Digital Ibnu Rusydi memberikan piala Apresiasi Swara Cantika (ASCA) 2026 kepada Amanda Simandjuntak di Jakarta, 17 September 2026. Foto: TEMPO/Hendy Mulia

Di luar teknologi dan pendidikan, Anda juga aktif sebagai penulis skenario. Bagaimana awalnya Anda masuk ke dunia film?

Amanda Simandjuntak: Aku memang suka film dan serial sejak kecil. Sering kali ketika menonton, aku berpikir bagaimana kalau cerita dan karakternya dibuat berbeda. Kemudian, ketika terlibat dalam pemberdayaan perempuan dan Perempuan Inovasi, aku banyak membuat video profil human interest dari para peserta. Dari situ aku melihat bahwa storytelling ternyata punya kekuatan besar untuk advokasi.

Sekitar dua tahun lalu aku mulai belajar menulis skenario. Awalnya hanya sebagai hobi setelah bekerja. Tapi kemudian aku sadar bahwa cerita-cerita yang selama ini ada di kepala ternyata bisa dituangkan menjadi skenario.

Apa yang ingin Anda capai lewat film yang mungkin tidak selalu bisa dicapai melalui program teknologi atau pendidikan?

Amanda Simandjuntak: Aku ingin menulis dan menjadikan film sebagai medium advokasi, dan bisa menjadi conversation starter.

Misalnya lewat "Ambang Batas", setelah filmnya dirilis di YouTube, muncul percakapan tentang kekerasan terhadap perempuan di ruang publik. Ada orang-orang yang kemudian membagikan pengalaman mereka sendiri. Buatku, percakapan itu yang menjadi tujuan. Film bisa membuka ruang agar orang mulai membicarakan sesuatu yang sebelumnya mungkin tidak mereka pikirkan.

Mengapa film menjadi medium yang menarik bagi Anda untuk membicarakan isu sosial?

Amanda Simandjuntak: Film itu bisa mengubah emosi dan itu bisa mengubah emosi dalam waktu singkat.

Misalnya kita melihat "Laskar Pelangi", film bisa membuat orang menyadari persoalan pendidikan di daerah dan kemudian mendorong mereka untuk melakukan sesuatu. Film juga bisa membangun kesadaran dan mengajak orang terlibat dalam gerakan, terutama untuk isu-isu perempuan.

Anda bergerak di tiga medium yang berbeda, teknologi, pendidikan, dan storytelling. Apa benang merah yang Anda lihat dari ketiganya?

Amanda Simandjuntak: Buatku semuanya adalah medium untuk melakukan perubahan. Teknologi memberikan alat dan akses. Pendidikan memberikan pengetahuan dan kemampuan. Sementara storytelling bisa menyentuh emosi dan mengubah cara orang melihat suatu persoalan.

Ketiganya bisa saling melengkapi, karena pada akhirnya, perubahan bukan hanya soal menciptakan sesuatu yang baru, tapi bagaimana kita bisa membuat orang melihat masalah, memahami, lalu terdorong untuk melakukan sesuatu.

Pilihan Editor: Playvul NYRA Angkat Isu Toxic Masculinity hingga Kekerasan Seksual Lewat Film Pendek

LANNY KUSUMASTUTI

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |