WAKIL Ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman menyetujui ucapan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya yang menyatakan Indonesia tengah mengalami fenomena inflasi pengamat. Teddy menuding banyak pengamat yang menyampaikan data tak sesuai fakta di lapangan.
"Pernyataan Sekretaris Kabinet Letnan Kolonel Teddy Indra Wijaya bahwa ada fenomena inflasi pengamat ada benarnya," kata Habiburokhman dalam keterangan tertulis pada Senin, 13 April 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Menurut Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat itu, pemerintahan Presiden Prabowo Subianto sudah menindaklanjuti banyak kritik yang dilontarkan oleh pengamat. Namun, dia berpandangan tidak seluruh masukan perlu ditanggapi lantaran ada kritik yang justru bertujuan merusak atau meracuni iklim demokrasi di bawah kepemimpinan Ketua Umum Partai Gerindra itu.
Habiburokhman menuduh ada pengamat yang mengklaim dirinya pengkritik, tapi justru yang disampaikan adalah kebohongan, propaganda, hingga kebencian. "Bisa saja motif mereka hanyalah merebut kekuasaan baik dengan jalur konstitusional maupun dengan jalur inkonstitusional," ucap dia.
Sehingga dia menilai kritikan-kritikan itu perlu disikapi dengan cara mengedukasi masyarakat agar itu tidak menjadi racun bagi demokrasi di Indonesia. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan generalisasi dalam menilai sebuah kritik sebab ada yang konstruktif dan tidak.
Kemudian, Habiburokhman meyakini bahwa bahwa Prabowo berkomitmen menjaga demokrasi dalam periode pertama kepemimpinannya. "Hampir 1,5 tahun Presiden Prabowo berkuasa, tidak ada seorangpun warga negara Indonesia dijatuhi hukuman karena mengkritik atau bahkan menghina Presiden Prabowo," tutur dia.
Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memunculkan istilah inflasi pengamat ketika menyoroti keberadaan pakar lintas bidang yang kerap mengkritik kebijakan Kepala Negara. Menurut Teddy,ara pengamat itu tidak memiliki latar belakang yang sesuai dengan isu yang mereka bicarakan dan datanya tidak cocok dengan kondisi lapangan.
“Sekarang ini, ada satu fenomena. Apa itu? Ada yang namanya inflasi pengamat. Jadi, banyak sekali pengamat. Ada pengamat beras, tapi dia background-nya bukan di situ. Ada pengamat militer, ada pengamat luar negeri. Dan pengamat-pengamat itu, datanya tidak sesuai fakta. Datanya keliru,” kata Teddy kepada awak media di kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Jumat, 10 April 2026.
Teddy berujar, kebanyakan dari pengamat tersebut sudah berusaha membentuk opini publik sejak sebelum Prabowo Subianto menjabat sebagai presiden. Namun, Teddy mengklaim, fakta menunjukkan bahwa Prabowo berhasil mendulang lebih dari 96 juta suara pada pemilihan presiden 2024.
Adapun Teddy mengklaim pemerintah tidak menolak untuk dikritik. Bagi dia, siapa pun boleh menyampaikan kritik. Namun, ia mewanti-wanti jangan sampai pernyataan yang dilontarkan justru menimbulkan kecemasan publik.
Ia lantas mengklaim bahwa situasi di Indonesia terkendali. Teddy menegaskan pemerintah menerima masukan-masukan dari masyarakat. Kata Teddy, pemerintah berupaya menyempurnakan dan memaksimalkan kinerjanya.
Dia mengingatkan bahwa masyarakat harus memiliki harapan dan doa baik untuk Indonesia. “Jangan sampai kita menjadi orang-orang yang malah justru mengajak orang lain untuk punya harapan dan doa yang jelek untuk negeri yang kita cintai ini,” kata dia.
















































