GEMPA berkuatan Magnitudo 6,7 mengakibatkan bencana yang merenggut korban jiwa, membuat warga terluka, dan menyebabkan kerusakan sejumlah bangunan di Kabupaten Sigi, Parigi Moutong, dan Kota Palu di Sulawesi Tengah pada 16 Juni 2026. Dari hasil pemeriksaan Tim Tanggap Darurat Badan Geologi, kejadian gempa darat pada pagi itu ternyata juga disertai likuefaksi atau hilangnya kekuatan tanah di sejumlah lokasi.
Tim tersebut berasal dari staf Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) dan Pusat Air Tanah dan Geologi Lingkungan. Mereka bekerja dengan membagi diri menjadi dua kelompok.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Di Kota Palu, mereka mengecek kerusakan bangunan dampak gempa yang berpusat di Sigi itu. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah setempat, sebanyak 5 fasilitas kesehatan, 84 tempat pendidikan, 3 rumah ibadah, 1 jembatan, 2 bangunan perdagangan, 5 hotel, 7 perkantoran terdampak gempa itu. Kerusakan umumnya berupa dinding roboh, retakan di tembok, lantai, plester dinding bangunan terkelupas, dan kerusakan plafon.
Menurut anggota tim Supartoyo, guncangan Gempa Sigi tidak mengakibatkan sesar permukaan (fault surface rupture) di Palu, dan tidak mengakibatkan bahaya ikutan seperti retakan tanah, penurunan tanah, likuefaksi, dan gerakan tanah atau longsoran. Temuan serupa di Kabupaten Parigi Moutong.
“Fenomena adanya susut laut yang terjadi di Teluk Palu setelah Gempa Sigi juga tidak berkaitan dengan potensi tsunami karena lokasi pusat gempa terletak di darat,” katanya dalam keterangan tertulis, Senin 20 Juli 2026.
Temuan berbeda didapati di daerah terdekat dengan lokasi pusat gempa, yaitu Kabupaten Sigi. Wilayah terdampak lindu paling signifikan adalah Kecamatan Palolo, Nokilalaki, dan Marowala. Dampak guncangan gempa hingga skala VII MMI yang dirasakan di wilayah-wilayah ini disertai kejadian likuefaksi.
Likuefaksi di Kecamatan Palolo terjadi di Desa Tongoa, Rejeki, Sintuwu, dan Sarumana yang umumnya berupa semburan pasir atau tipe sand boil. Di beberapa rumah terjadi penurunan tanah antara 1-5 sentimeter misalnya di bagian dapur karena fenomena ikutan tersebut. Selain itu sumur gali dengan muka air tanah (MAT) kurang dari 5 meter dekat rumah warga pun sampai kering setelah gempa.
Desa terdampak likuefaksi di Kecamatan Palolo, menurut Peta Zona Kerentanan Likuefaksi dari Badan Geologi, dikategorikan pada kerentanan menengah atau warna kuning. Kondisi likuefaksi serupa terjadi di Kecamatan Nokilalaki dan Marowala.
Badan Geologi merekomendasikan bagi rumah penduduk yang kerusakannya dikontrol oleh proses likuefaksi dapat dibangun kembali dengan membangun semi permanen yang sifatnya ringan. "Apabila akan mendirikan bangunan tembok agar benar-benar menggunakan konstruksi bangunan tahan gempa bumi dan melakukan penguatan pada fondasi agar tidak mengakibatkan kerusakan sewaktu terjadi gempa bumi yang memicu likuefaksi."

















































