Fenomena Fatherless dalam Film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?

6 hours ago 2

FENOMENA fatherless atau ketiadaan peran ayah dalam kehidupan anak menjadi sorotan dalam film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?. Bukan hanya soal ketidakhadiran secara fisik, kondisi ini juga merujuk pada minimnya keterlibatan emosional seorang ayah dalam keluarga.

“Di sini (film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?), ayah justru seperti tidak punya ruang, tidak bersuara, bahkan terasa seperti bayangan,” kata aktor Dwi Sasono dalam konferensi pers di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan, Kamis, 2 April 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Ia menyoroti bahwa banyak anak yang tumbuh dengan sosok ayah yang secara fisik, namun tidak benar-benar hadir dalam kehidupan mereka. Kondisi ini membuat ayah terasa seperti “bayangan” ada, tetapi tidak memberi pengaruh emosional yang signifikan.

Fenomena ini tidak selalu terlihat secara kasat mata. Dalam banyak kasus, anak tetap tinggal dalam satu rumah dengan kedua orang tua, tetapi relasi yang terbangun terasa kosong. Komunikasi yang minim, kedekatan yang renggang, serta kurangnya keterlibatan ayah dalam keseharian anak menjadi faktor yang memperkuat kondisi tersebut.

Dampaknya pun tidak sederhana. Anak yang tumbuh tanpa kehadiran emosional ayah berpotensi mengalami kebingungan identitas, kesulitan mengelola emosi, hingga membentuk relasi yang tidak sehat di kemudian hari. Dalam beberapa kasus, kondisi ini juga memicu pemberontakan sebagai bentuk ekspresi dari perasaan yang tidak tersampaikan.

Pengalaman serupa juga disinggung oleh sejumlah aktor yang terlibat dalam film Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?. Mawar De Jongh menyebut bahwa banyak perasaan anak yang tidak pernah benar-benar terucap, sementara Rey Bong melihat adanya kecenderungan anak untuk melawan ketika tidak menemukan ruang komunikasi dalam keluarga.

Fenomena fatherless sendiri belakangan semakin banyak diperbincangkan, seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya peran ayah, bukan hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai figur yang hadir secara emosional.

Kehadiran ayah yang utuh dinilai berperan penting dalam membentuk rasa aman, kepercayaan diri, serta kestabilan emosional anak. Sebaliknya, ketiadaan peran tersebut, meskipun tidak selalu terlihat dapat meninggalkan dampak jangka panjang yang mempengaruhi kehidupan anak hingga dewasa.

Film Ayah, Ini Arahnya Ke Mana, Ya? merupakan adaptasi dari dari buku berjudul sama karya Khoirul Trian. “Ini menyuarakan apa yang selama ini tidak pernah disuarakan mengenai ayah. Ada istilah fatherless, ada istilah father hunger. Dari situ kita mengambil IP ini dan kami develop untuk dialih-visualkan ke media film,” tutur produser Soemijato Muin. Film ini tayang mulai Kamis, 9 April 2026.

GHAEIZA KAY RASUFFI

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |