Ekonom Trimegah Menilai BI Rate Perlu Naik 25 Basis Poin

18 hours ago 4

BANK Indonesia (BI) sedang menggelar Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulanan pada 20 dan 21 Juli 2026. Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menilai bank sentral masih perlu menaikkan suku bunga acuan alias BI Rate pada pertemuan kali ini.

Menurut Fakhrul, perkembangan pasar positif sepekan belakangan. Namun, kebutuhan Indonesia untuk menarik arus modal asing tahun ini masih sangat besar. "Menurut kami, Bank Indonesia masih perlu melanjutkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada RDG Juli,” ucapnya lewat pernyataan tertulis pada Senin, 20 Juli 2026. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Pilihan tersebut, menurut dia, bukan semata-mata karena kondisi pasar saat ini, tetapi karena BI sebelumnya telah menyampaikan pendekatan yang bersifat pre-emptive. Kredibilitas bank sentral dibangun ketika komunikasi tersebut diikuti oleh implementasi kebijakan.

Selama sepekan terakhir, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi salah satu pasar saham dengan kinerja terbaik di kawasan. Sedangkan rupiah juga mencatat penguatan relatif lebih baik dibandingkan sebagian besar mata uang regional. Pada Senin pagi, nilai tukar rupiah tercatat 17.977 per dolar Amerika Serikat atau membaik dibanding pekan sebelumnya yang masih di level 18 ribu per dolar AS. Sedangkan IHSG awal pekan dibuka menguat 21,95 poin ke posisi 6.197.

Perbaikan sentimen tersebut, menurut Fakhrul, didukung oleh meningkatnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Khususnya setelah lembaga pemeringkat S&P Global mempertahankan rating utang negara alias sovereign rating Indonesia pada level investment grade BBB dengan prospek stabil.

Namun, ia menilai, stabilisasi pasar dalam jangka pendek tidak boleh diartikan bahwa seluruh tantangan eksternal telah selesai. Pasar memang menunjukkan perbaikan yang cukup signifikan namun kebutuhan Indonesia untuk menarik arus modal asing tahun ini masih sangat besar.” Karena itu, momentum positif ini justru perlu diperkuat melalui kebijakan yang konsisten dan kredibel," ucapnya.

Selain itu, Fakhrul memperkirakan Indonesia masih membutuhkan tambahan arus modal sekitar US$ 11 miliar hingga akhir tahun untuk menjaga keseimbangan neraca pembayaran sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah. Dalam konteks tersebut, ia menilai BI masih perlu memberikan daya tarik aset keuangan domestik melalui langkah kebijakan yang konsisten.

Adapun BI rate bertahan di level 4,75 persen sejak September 2025. Pada 20 Mei, Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen. BI Rate kembali naik mendadak pada 9 Juni atau di luar jadwal Rapat Dewan Gubernur bulanan menjadi 5,50 persen. 

Dalam RDG Kamis, 18 Juni 2026 lalu, bank sentral memutuskan mengerek suku bunga acuan lagi sebesar 25 basis poin menjadi 5,75 persen. Secara kumulatif sejak Mei hingga Juni, BI Rate telah naik 100 basis poin.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |