Berkat Sekolah Rakyat, Julio Selamat dari Pergaulan Bebas

6 hours ago 4

INFO NASIONAL - Julio merupakan salah satu murid di Sekolah Rakyat yang kini tengah menempuh pendidikan dengan penuh semangat. Dukungan dari sang nenek menjadi kekuatan utama baginya untuk terus belajar dan meraih masa depan yang lebih baik.

Ia tinggal bersama neneknya, Welas (74), di rumah sederhana di Kampung Kedung Tungkul, Surakarta, Jawa Tengah. Sehari-hari, Welas berjualan sayur keliling untuk memenuhi kebutuhan hidup. Meski dalam keterbatasan, harapan agar Julio bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik terus dijaga.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Kisah Julio bukan sekadar angka dalam data kemiskinan atau potret anak putus sekolah. Ia adalah wajah nyata dari anak-anak yang membutuhkan uluran negara untuk menempuh pendidikan yang berkualitas.

Sejak kehilangan ayahnya di usia satu tahun, Julio tumbuh dalam keterbatasan bersama sang nenek. Tanpa pendampingan yang memadai, ia sempat terjerumus dalam pergaulan yang salah. Hari-harinya diwarnai kenakalan remaja, dari lempar batu hingga membawa senjata tajam. Ia pun putus sekolah di bangku kelas 3 SD.

Kondisi ini menjadi kegelisahan tersendiri bagi Welas. Dalam keterbatasannya, ia terus mencari jalan agar cucunya tidak semakin jauh tersesat. Harapan itu akhirnya menemukan jalannya melalui Sekolah Rakyat, sebuah program pendidikan berasrama gratis yang dihadirkan Presiden RI Prabowo Subianto bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan. Kini, Julio tercatat sebagai siswa di Sekolah Rakyat Dasar (SRD) 2 Surakarta.

Perubahan perilaku Julio perlahan tampak. Julio yang dulu sulit diatur, kini mulai menunjukkan sikap yang lebih tenang. Ia kembali belajar, mengenal kedisiplinan, dan yang paling menghangatkan hati, menemukan kembali kasih sayang dalam hubungan dengan neneknya. “Sekarang dia lebih dekat. Bisa merangkul, menciumi saya. Katanya senang di sekolah,” kata Welas.

Perjalanan Julio menjadi bukti bahwa Sekolah Rakyat menjadi ruang aman bagi anak-anak. Tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga belajar tentang nilai, kedisiplinan, dan masa depan.

Kehadiran sekolah berasrama juga meringankan beban keluarga. Jika dulu Julio kerap meminta uang jajan harian yang memberatkan, kini kebutuhan dasarnya terpenuhi. Negara hadir tidak hanya sebagai penyedia layanan, tetapi sebagai pelindung bagi anak-anak yang rentan.

Di tengah usianya yang semakin renta, Welas pun kini bisa sedikit bernapas lega. Harapannya sederhana, Julio tumbuh menjadi pribadi yang baik, mandiri, dan tidak terlantar. “Kalau saya sudah tidak ada, saya titip cucu saya. Semoga dia jadi orang baik,” ucapnya. Dalam setiap doanya, ia menitipkan masa depan Julio.

Kisah Julio menjadi pengingat bahwa intervensi yang tepat dapat mengubah arah hidup seorang anak. Melalui Sekolah Rakyat, Kementerian Sosial terus berupaya memastikan bahwa anak-anak seperti Julio tidak kehilangan masa depan hanya karena lahir dalam keterbatasan. (*)

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |