Asal-usul Hari Peduli Autisme Sedunia: Kenali Gejala dan Penanganan Autisme

20 hours ago 2

Setiap 2 April diperingati sebagai hari peduli autisme sedunia. Berikut asal-usulnya.

3 April 2025 | 13.31 WIB

Evelyn, 14 tahun, seorang penyandang autisme sedang menunjukkan keahliannya merajut  saat pameran karya seni Art for Autism di Atrium Grand City, Surabaya, Selasa (2/4). Pameran untuk memperingati Hari Autis Sedunia  ini sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap penyandang autisme dan juga sebagai kampanye menolak diskriminasi terhadap penyandang autisme. TEMPO/Fully Syafi

Evelyn, 14 tahun, seorang penyandang autisme sedang menunjukkan keahliannya merajut saat pameran karya seni Art for Autism di Atrium Grand City, Surabaya, Selasa (2/4). Pameran untuk memperingati Hari Autis Sedunia ini sebagai salah satu bentuk kepedulian terhadap penyandang autisme dan juga sebagai kampanye menolak diskriminasi terhadap penyandang autisme. TEMPO/Fully Syafi

TEMPO.CO, Jakarta - Sejak disahkan pada 18 Desember 2007, setiap 2 April setiap tahunnya diperingati sebagai hari peduli autisme dunia atau World Autism Awareness Day (WAAD).

Majelis Umum PBB menetapkan keputusan hari peduli autisme sedunia ini dalam surat PBB nomor A/RES/62/139. Tujuan utama dari peringatan peduli autisme sedunia ini adalah untuk meningkatkan kesadaran masyarakat internasional tentang autisme dan mendorong tindakan untuk membantu orang dengan autisme hidup secara penuh dan bermakna sebagai bagian dari masyarakat.

slot-iklan-300x600

Asal Usul Memperingati WAAD

Dikutip dari laman Business Standard, Psikiater Eugen Bleuler menciptakan istilah "autisme" pada tahun 1911 dan membedakan autisme dari skizofrenia karena gejala yang mirip. Pada 1943, Dr Leo Kanner, seorang psikiater anak, membedakan autisme sebagai kondisi sosial dan emosional dalam makalahnya yang berjudul Autistic Disturbances of Affective Contact, dan pada 1944 dia mengklasifikasikan autisme sebagai gangguan.

Menambahkan informasi mengenai autisme, dilansir dari laman Babel Antaranews, spektrum autisme sangatlah beragam seperti minat yang kuat pada bidang tertentu, kecenderungan untuk rutinitas, kesulitan komunikasi, dan pemrosesan informasi sensorik yang berbeda, serta interaksi sosial yang unik dari penyandangnya. Setiap penyandang autisme dapat memiliki satu atau gabungan dari beberapa spektrum karakteristik tersebut.

Tingginya ragam spektrum dan rendahnya kesadaran akan autisme menyebabkan stigmatisasi dan diskriminasi oleh masyarakat kepada penyandang autisme dan keluarga yang merawat, Perserikatan Bangsa-Bangsa menegaskan kembali prinsip dasar hak asasi manusia secara umum, termasuk hak penyandang melalui Konvensi Hak Penyandang Disabilitas di kantor pusat PBB di New York pada 13 Desember 2006, konvensi tersebut disahkan untuk diadopsi oleh seluruh dunia. Itu mulai berlaku pada 3 Mei 2008.

Akibatnya, resolusi PBB pada 18 Desember 2007 dengan nomor A/RES/62/139 menetapkan 2 April sebagai Hari Peduli Autisme Sedunia, yang mulai berlaku pada 2008. Tujuannya jelas untuk memajukan, melindungi, dan menjamin bahwa semua penyandang disabilitas menikmati hak asasi manusia dan kebebasan mendasar secara penuh dan setara, sehingga mereka lebih menghargai martabat yang diberikan kepada mereka.

Setiap tahunnya peringatan ini memiliki tema yang berbeda-beda. Misalnya pada tahun lalu mengusung tema Moving from Surviving to Thriving: Autistic Individuals Share Regional Perspectives. Sedangkan tahun ini mengusung tema Advancing Neurodiversity and the UN Sustainable Development Goals (SDGs). Berfokus pada bagaimana praktik dan kebijakan inklusif dapat membantu penyandang autisme.

Gejala Autis pada Anak-Anak

Autis banyak terdeteksi ketika masih anak-anak. Beberapa kategori gejala berdasarkan edisi terbaru dari Manual Diagnostik dan Statistik Gangguan Mental (DSM-5), yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association, dikutip dari laman Healthline, antara lain:

  • Keterampilan Sosial
    • Menghindari atau mengalami kesulitan mempertahankan kontak mata.
    • Tidak merespons ketika nama mereka dipanggil.
    • Tampaknya tidak mendengar ketika Anda berbicara dengan mereka.
    • Lebih suka bermain sendiri daripada dengan orang lain.
    • Tampak tidak berbagi minat dengan orang lain.
    • Menghindari kontak fisik, seperti digendong atau dipeluk.
    • Memiliki ekspresi wajah yang datar.
    • Mengalami kesulitan mengekspresikan perasaan mereka sendiri atau memahami perasaan orang lain.
  • Komunikasi
    • Keterlambatan atau kemunduran dalam perkembangan bicara dan bahasa.
    • Membalikkan kata ganti, seperti mengatakan “kamu” padahal yang dimaksud adalah “saya”.
    • Tidak menggunakan gerak tubuh seperti menunjuk atau melambaikan tangan.
    • Kesulitan memahami isyarat nonverbal, seperti gerak tubuh atau ekspresi wajah.
    • Berbicara dengan suara datar atau bernyanyi.
    • Mengalami kesulitan memulai atau mempertahankan percakapan.
    • Tidak mengikuti arahan.
    • Mengulangi kata-kata atau frasa tertentu berulang kali (echolalia).
    • Mengalami kesulitan bermain pura-pura.
    • Tidak memahami hal-hal seperti lelucon, sarkasme, atau kiasan.
  • Perilaku yang dibatasi, tidak biasa, atau berulang
    • Gerakan berulang, seperti bergoyang-goyang ke depan dan ke belakang dan mengepakkan tangan.
    • Mengembangkan rutinitas atau ritual dan menjadi gelisah jika mereka terganggu.
    • Menjadi sangat terpaku pada suatu objek atau aktivitas, seperti menonton kipas angin langit-langit berputar.
    • Memiliki minat yang sangat spesifik atau obsesif.
    • Menjadi sangat terorganisir, seperti menyusun mainan dalam urutan tertentu.
    • Memiliki minat yang kuat pada detail suatu benda, seperti roda pada mobil mainan, daripada keseluruhan objek.
    • Pola gerakan yang aneh, seperti berjalan dengan jari-jari kaki atau bahasa tubuh yang berlebihan.
    • Menjadi sensitif terhadap rangsangan sensorik, seperti lampu, suara, atau sensasi.
    • Memiliki keengganan atau preferensi yang sangat spesifik untuk makanan, yang dapat mencakup jenis, tekstur, atau suhu makanan tertentu.

Gejala Autis pada Dewasa

Tidak hanya pada anak-anak, autis juga dapat mengenai orang dewasa. Dikutip dari sumber yang sama, berikut ini adalah gejalanya:

  • Perilaku komunikasi sosial
    • Anda kesulitan membaca isyarat sosial.
    • Sulit berpartisipasi dalam percakapan.
    • Anda mengalami kesulitan untuk memahami pikiran atau perasaan orang lain.
    • Anda tidak dapat membaca bahasa tubuh dan ekspresi wajah dengan baik. (Anda mungkin tidak dapat mengetahui apakah seseorang senang atau tidak senang dengan Anda).
    • Anda menggunakan pola bicara yang datar, monoton, atau seperti robot yang tidak mengomunikasikan apa yang Anda rasakan.
    • Anda menciptakan kata-kata dan frasa deskriptif Anda sendiri.
    • Memahami kiasan dan pergantian frasa (seperti “Burung yang paling awal menangkap cacing” atau “Jangan melihat kuda dalam karung”) adalah hal yang sulit.
    • Anda tidak suka menatap mata seseorang ketika berbicara dengan mereka.
    • Anda berbicara dengan pola dan nada yang sama, baik di rumah, dengan teman, atau di tempat kerja.
    • Anda banyak berbicara tentang satu atau dua topik favorit.
    • Anda membuat keributan di tempat yang seharusnya tenang.
    • Membangun dan mempertahankan persahabatan yang erat itu sulit.
  • Perilaku yang membatasi dan berulang-ulang
    • Anda mengalami kesulitan dalam mengatur emosi dan respons Anda terhadapnya.
    • Perubahan rutinitas dan ekspektasi menyebabkan perasaan yang kuat yang mungkin termasuk ledakan atau kehancuran.
    • Ketika sesuatu yang tidak terduga terjadi, Anda merespons dengan ledakan emosi.
    • Anda marah ketika barang-barang Anda dipindahkan atau ditata ulang.
    • Anda memiliki rutinitas, jadwal, dan pola harian yang kaku yang harus dipertahankan apa pun yang terjadi.
    • Anda memiliki perilaku dan ritual yang berulang-ulang.

Penanganan

Banyak pilihan yang kini bisa dilakukan untuk menangani dan mendukung para pengidap autis baik anak-anak maupun dewasa, antara lain:

  1. Terapi psikologis
    Terapi ini dapat mencakup berbagai jenis terapi yang berbeda, termasuk berbagai jenis terapi perilaku, terapi pendidikan, dan pelatihan keterampilan sosial.
  2. Obat-obatan
    Beberapa obat dapat membantu mengatasi gejala ASD, seperti agresi atau hiperaktif.
  3. Terapi bicara dan bahasa
    Jenis terapi wicara ini dapat membantu anak meningkatkan kemampuan bicara dan komunikasi verbal mereka.
  4. Terapi okupasi
    Seorang terapis akan membantu anak Anda mendapatkan keterampilan hidup sehari-hari.
  5. Mengobati kondisi kesehatan lainnya
    Anak-anak dengan ASD mungkin juga memiliki kondisi kesehatan lain, seperti epilepsi. Dokter Anda akan bekerja untuk mengelola kondisi ini juga.
  6. Terapi alternatif
    Banyak orang tua mempertimbangkan terapi alternatif untuk melengkapi opsi dukungan lainnya. Dalam beberapa kasus, risiko mungkin lebih besar daripada manfaatnya. Diskusikan terapi alternatif dengan dokter anak Anda.
  7. Pekerja sosial
    Pekerja sosial dapat memainkan peran penting dalam mendukung penyandang autisme. Mereka mungkin akrab dengan sumber daya lokal dan kelompok-kelompok advokasi diri. Beberapa pekerja sosial dapat memberikan dukungan sebagai manajer kasus, membantu memfasilitasi kesehatan mental dan perawatan medis yang tepat.
  8. Kelompok pendukung
    Banyak orang dewasa autis telah menemukan dukungan melalui kelompok dan forum online, serta dengan terhubung secara langsung dengan orang dewasa lain dalam spektrum autisme.

Melalui peringatan ini, diharapkan kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap autisme semakin meningkat, sehingga tercipta lingkungan yang inklusif dan mendukung bagi individu dengan ASD di seluruh dunia.

Sri Dwi Aprilia

Di Bawah Lindungan Masjid

Di Bawah Lindungan Masjid

slot-iklan-728x90

slot-iklan300x250

PODCAST REKOMENDASI TEMPO

  • Podcast Terkait
  • Podcast Terbaru
Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |