Sambut Ramadan 1447 H, Warga Yogyakarta Gelar Tradisi Nyadran

3 days ago 7

CANTIKA.COM, Jakarta - Menyambut datangnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, masyarakat di berbagai wilayah Yogyakarta menggelar tradisi nyadran atau sadranan dengan mengunjungi makam leluhur secara serentak pada Minggu, 8 Februari 2026.

Tradisi turun-temurun ini bukan sekadar ritual kirim doa, melainkan juga berkembang menjadi ruang budaya yang memperkuat kerukunan lintas agama, mempererat persaudaraan warga, sekaligus menjaga identitas lokal agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.

Nyadran dengan Kirab Budaya di Kampung Bener

Di Kampung Bener, Kecamatan Tegalrejo, Kota Yogyakarta, nyadran tak hanya diisi dengan ziarah dan doa bersama. Warga mengawali rangkaian acara dengan kirab budaya yang melibatkan Punakawan, Bregodo Rakyat, gunungan sayuran, gunungan kolak, ketan dan apem, ingkung, grup hadrah, hingga partisipasi aktif masyarakat setempat.

Warga menyiapkan apem, ketan, kolak, dan berbagai uborampe secara gotong royong untuk dinikmati bersama setelah doa selesai dilaksanakan.

Ketua Panitia Nyadran Kampung Bener, Muryono, menyebut pelaksanaan nyadran tahun ini terasa istimewa karena kembali dilengkapi pawai budaya yang sempat vakum akibat pandemi. Tahun ini, nyadran mengusung tema “Eling lan waspodo, donga bareng, paseduluran langgeng” yang berarti ingat dan waspada, doa bersama, persaudaraan abadi.

Selama kegiatan berlangsung, warga lintas agama juga turut berbaur dalam doa bersama sesuai keyakinan masing-masing.

“Alhamdulillah, semua warga dari berbagai kepercayaan bisa rawuh (datang) dan berbaur,” ujar Muryono kepada Tempo.

Ia menambahkan, konsep nyadran kali ini melibatkan lebih banyak elemen masyarakat karena tradisi tersebut merupakan kearifan lokal yang penting dijaga sebagai sarana pewarisan nilai-nilai sosial.

Nyadran dan Penanaman Pohon Gambir

Sementara itu, di Kampung Gambiran, Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, nyadran dikombinasikan dengan upaya revitalisasi identitas kampung melalui penanaman kembali pohon gambir.

Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, turut menanam pohon gambir di area Makam Gambiran, yang merupakan petilasan leluhur kampung tersebut. Penanaman ini menjadi upaya menghidupkan kembali toponimi atau asal-usul nama Kampung Gambiran yang dahulu dikenal sebagai kawasan hutan tanaman gambir.

“Menghidupkan kembali legenda-legenda dari tanaman itu juga merangsang anak cucu supaya kreatif dan inovatif. Kalau diteliti, khasiat gambir sangat bagus sebagai antibiotik dan antiseptik,” kata Hasto, yang juga berprofesi sebagai dokter.

Ketua Kampung Gambiran, Susilo Edy, mengatakan pencarian pohon gambir sempat memakan waktu cukup lama hingga akhirnya bibit didatangkan langsung dari Sumatera. Sebanyak 20 pohon gambir direncanakan ditanam di titik-titik strategis sebagai penanda sejarah kampung.

Sadranan Agung Wotgaleh di Sleman

Di wilayah Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman, semangat menyambut Ramadan diwujudkan melalui Sadranan Agung Wotgaleh. Ribuan warga tumpah ruah mengikuti kirab menuju kompleks Masjid Sulthoni Wotgaleh dan Makam Pangeran Purbaya.

Lurah Sendangtirto, Amir Junawan, menjelaskan tradisi ini rutin digelar setiap bulan Ruwah dalam kalender Jawa, atau bulan Sya’ban dalam kalender Islam, sebagai bentuk rasa syukur menyambut Ramadan sekaligus penghormatan kepada leluhur.

“Pangeran Purbaya dikenang sebagai putra dari Panembahan Senopati selaku raja pertama Mataram Islam,” kata Amir.

Rangkaian acara ditutup dengan rayahan, yakni tradisi berebut gunungan hasil bumi oleh warga sebagai simbol berkah, kebersamaan, dan rasa syukur.

Pilihan Editor: Tradisi Ramadan Unik dari Berbagai Negara, Beli Lentera hingga Menyanyikan Lagu Tradisional

PRIBADI WICAKSONO (KONTRIBUTOR)

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |