IHSG Anjlok 1,28 Persen, Bagaimana Proyeksinya Sepekan?

6 hours ago 5

INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) pada awal perdagangan pekan ini atau Senin, 29 Juni 2026 ditutup di level 5.820,79 atau anjlok 1,28 persen dibanding penutupan sebelumnya. Pergerakan IHSG selama pekan ini diprediksi masih akan berada dalam tren turun.

Mengutip data Bursa Efek Indonesia hingga akhir sesi hari, total nilai transaksi perdagangan saham hingga sesi terakhir hanya mencapai Rp 9,1 triliun. Adapun frekuensi trading tercatat sebanyak 1,23 juta kali dan volume trading sebanyak 15,48 miliar lembar saham.

Adapun sepanjang perdagangan pekan lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok 4,55 persen ke level 5.896,13 dari posisi 6.177,13 pada pekan sebelumnya. Penurunan diikuti merosotnya kapitalisasi pasar BEI dari Rp10.788 triliun menjadi Rp 10.302 triliun.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menyatakan koreksi ini dipicu oleh aksi jual massal investor asing dengan catatan net foreign sell mencapai Rp 3,19 triliun di pasar reguler. Catatan ini turut memangkas rata-rata frekuensi transaksi harian sebesar 22,95 persen menjadi 1,73 juta kali dan volume transaksi harian sebesar 26,01 persen menjadi 25,18 miliar lembar saham.

Sepanjang pekan ini, IPOT memprediksi pergerakan IHSG berada dalam tren turun (downtrend) jangka menengah, meski sempat mengalami pembalikan atau rebound dari level terendah 5.318. Ia menjelaskan beberapa indikator teknikal juga menunjukkan bahwa momentum penguatan mulai terbatas. “Sehingga IHSG berpeluang menguji area support 5.700–5.800 pada pekan depan,” ucap Brigita lewat keterangan tertulis, Senin, 29 Juni 2026.

Brigita menyatakan selama support tersebut mampu dipertahankan, pergerakan indeks diperkirakan masih akan berkonsolidasi dalam kisaran 5.500–6.400. Pembalikan tren menjadi bullish baru akan terbentuk apabila IHSG mampu menutup perdagangan mingguan di atas level 6.452.

Meskipun ada sentimen positif dari membaiknya data sentimen konsumen dan inflasi Amerika Serikat, pasar pada pekan ini tetap dibayangi kewaspadaan. Khususnya setelah Presiden Bank Sentral regional AS Fed Minneapolis, Neel Kashkari, mengisyaratkan potensi kenaikan suku bunga akibat kembali munculnya ketegangan di Timur Tengah, serta penurunan harga minyak meski ada isu pelanggaran gencatan senjata oleh Iran.

Dari sisi domestik sentimen yang memengaruhi pekan ini adalah pelaku pasar domestik diperkirakan masih cenderung bersikap wait and see di tengah beragam sentimen yang saling tarik-menarik. Brigita memaparkan perhatian investor akan tertuju pada rangkaian data makroekonomi utama semester pertama, mulai dari inflasi, neraca perdagangan, tingkat kepercayaan konsumen, hingga keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia pada pertengahan Juli mendatang.

Selain itu rencana efisiensi anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG), penghematan subsidi energi, serta berbagai langkah reformasi kebijakan yang dinilai dapat memperbaiki persepsi terhadap kondisi fiskal Indonesia. "Meski demikian, pelaku pasar masih akan mencermati efektivitas implementasi kebijakan tersebut serta menunggu penilaian lanjutan dari lembaga pemeringkat kredit," ucapnya.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |