CORE: Kelas Menengah Paling Terdampak Kenaikan BBM dan LPG

7 hours ago 1

DIREKTUR Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE), Mohammad Faisal, menilai kenaikan harga BBM dan LPG nonsubsidi paling membebani masyarakat kelas menengah. Menurut dia, tekanan terbesar dirasakan dari lonjakan harga LPG nonsubsidi yang selama ini digunakan oleh mayoritas rumah tangga kelompok ini.

Faisal mengatakan kenaikan ini langsung memukul pengeluaran harian kelas menengah. Sementara itu, dampak kenaikan BBM nonsubsidi relatif terbatas bagi kelas menengah. Pasalnya, jenis BBM yang mengalami kenaikan signifikan adalah BBM dengan spesifikasi tinggi, seperti RON 98 ke atas, yang umumnya dikonsumsi kalangan atas.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Untuk BBM nonsubsidi yang naik, seperti RON 98 ke atas, dampaknya ke kelas menengah relatif kecil. Konsumennya lebih banyak kalangan atas,” kata Faisal saat dihubungi, Senin, 20 April 2026.

Kenaikan harga Avtur juga berpotensi berdampak melalui naiknya harga tiket pesawat, yang turut memengaruhi mobilitas dan pengeluaran kelompok ini.

Secara keseluruhan, kata Faisal, kenaikan harga energi akan menekan daya beli kelas menengah dan berimbas pada sektor produksi. Hal ini karena konsumsi kelompok menengah menjadi penopang utama aktivitas ekonomi.

Dalam jangka pendek, Faisal menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga pangan agar tekanan terhadap kelas menengah tidak semakin berat. Ia menilai kebijakan pemerintah yang tidak menaikkan harga BBM bersubsidi sudah tepat untuk menahan laju inflasi, khususnya di sektor pangan.

“Kalau BBM subsidi dinaikkan, biasanya akan berdampak ke inflasi pangan dan itu akan lebih menekan kelas menengah,” ujarnya.

Sementara dalam jangka menengah hingga panjang, ia mengatakan, pemerintah perlu fokus pada penguatan sisi pendapatan masyarakat, terutama melalui penciptaan lapangan kerja formal. Menurut Faisal, kelas menengah telah mengalami tekanan dalam beberapa tahun terakhir, bahkan cenderung menyusut sejak pandemi.

“Program pemerintah perlu menyasar penciptaan lapangan kerja, terutama yang formal, karena itu yang paling memengaruhi daya beli kelas menengah,” kata dia.

Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga menaikkan harga LPG nonsubsidi ukuran 12 kg dari Rp 192 ribu menjadi Rp 228 ribu per tabung atau naik sekitar 18,75 persen. Penyesuaian ini menjadi yang pertama sejak 2023 dan mulai berlaku pada 18 April 2026.

Kenaikan harga juga terjadi pada LPG nonsubsidi ukuran 5,5 kg, dari Rp 90 ribu menjadi Rp 107 ribu per tabung atau naik sekitar 18,89 persen. Pertamina juga menaikkan harga BBM non bersubsidi Dexlite, Pertamina Dex dan Pertamax Turbo.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |