INFO TEMPO – BTN Housingpreneur 2025 menghadirkan kategori House Design dalam kompetisinya. BTN mencari ide desain arsitektural rumah terbaik untuk rumah tapak dan rumah vertikal (low, medium, high) dengan prinsip sustainability.
Dalam kategori House Design, orisinalitas ide dan produk menjadi penilaian. Begitu juga inovasi dalam fungsi, estetika, dan tata letak. Selain itu, penerapan prinsip sustainability seperti hemat energi dan ramah lingkungan juga menjadi pertimbangan. Desain yang mempertimbangkan efisiensi biaya dengan kualitas kompetitif juga dinilai beserta penerapan pada berbagai tipe hunian seperti rumah tapak maupun vertikal.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Memenuhi semua kriteria dari kategori House Design dan mendapatkan penilaian yang tinggi, Growing Habitat dan TerraGriya pun mendapat apresiasi dari BTN. Keduanya menghadirkan hunian vertikal yang mengusung keberlanjutan.
Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu (kiri) meninjau salah satu karya peserta di BTN Housingpreneur 2025. Dok. BTN
Desain Permakultur di Growing Habitat
Rafi Zufarul Fahd, mahasiswa dari Universitas Brawijaya, mengangkat Growing Habitat: Kampung Vertikal Agrikultur dengan Pendekatan Desain Permakultur di Kota Malang sebagai ide desainnya pada ajang BTN Housepreneur 2025.
Rafi memilih Kampung Vertikal karena melihat penduduk Kota Malang yang terus meningkat. Berdasarkan catatan BPS tahun 2024, penduduk Malang sudah mencapai 885 ribu jiwa. Sayangnya, para penduduk banyak tekonsentrasi di wilayah perkotaan seperti Kecamatan Klojen dan Kecamatan Lowokwaru yang menimbulkan kepadatan. Dikarenakan pertumbuhan penduduk yang tinggi maka kepadatan lahan pun meningkat.
Melihat kondisi itu, Rafi pun tertantang untuk menghadirkan desain hunian yang layak dan terjangkau oleh masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). “Maka hunian vertikal menjadi solusi efisien dalam meminimalkan konversi lahan,” kata dia.
MBR, potensi khas kampung kota seperti interaksi sosial, dan kampung vertikal yang mempertahankan karakteristik kampung kota menjadi ide awalnya untuk membuat desain Growing Habitat. Dia pun kemudian merancang kampung vertikal yang terintegrasi dengan sistem agrikultur secara menyeluruh. "Dengan mengadaptasi pendekatan desain permakultur (permanent agriculture) diharapkan tercipta sebuah siklus tertutup yang sirkuler atau sustainable design," kata Rafi, baru-baru ini.
Menurut Rafi, kampung vertikal yang kerap dikenal dengan rumah susun sesungguhnya berbeda dengan Growing Habitat yang diusungnya. Pada Growing Habitat, hunian vertikal terintegrasi agrikultur.
Dia mengatakan, adanya urban agriculture memiliki potensi besar dalam mendukung ketahanan pangan dan meningkatkan kualitas lingkungan perkotaan. Sementara urban farming telah dikenal masyarakat Malang dengan teknik vertikultur. “Tapi selama ini masih di skala rumah tangga.”
Agar dapat diterapkan untuk skala besar Rafi pun memilih Desain Permakultur yang juga mengusung prinsip ekologi, etika, dan efisiensi sistem dalam pengelolaan sumber daya. “Dalam desain ini dapat melingkupi earth care, people care, dan fair share.”
Dia menambahkan, “Apalagi konsep hunian kampung vertikal ini difokuskan pada MBR sehingga bisa tercapai swasembada pangan di kemudian hari,” ujar dia. Rafi juga ingin merancang hunian yang tidak sekedar untuk ditinggali, tapi menjadi sebuah tempat produktivitas yang sangat dekat dengan kehidupan.
Menurut Rafi untuk mendirikan Growing Habitat, dibutuhkan tanah tapak kurang lebih seluas 15.615 m² yang akan menghadirkan hunian mid-rise building untuk MBR. Sementara itu, disiapkan fungsi agrikultur dalam bangunan untuk sistem urban farming.
Untuk mengawali pembangunannya, konsep massa disiapkan yakni transformasi massa bangunan dan proses pembagian zona hunian dan agrikultur pada bangunan. Selain itu, disiapkan juga Social Terrace Concept sebagai tempat bersosialisasi, membawa interaksi kampung kota ke dalam hunian vertikal.
Rafi juga mengusung ide zonasi ruang bangunan yang terdiri dari lantai 1 berupa area komersial dan workshop agrikultur, sementara lantai 2-6 merupakan hunian yang terintegrasi dengan agrikultur privat maupun komunal. “Nantinya dalam satu Structural Floor Level (SFL) terdapat 2 tingkat hunian dengan sirkulasi yang cukup lebar dan multifungsi untuk interaksi maupun kegiatan warga.
Sementara itu disiapkan juga Zonasi Permakultur terdiri dari Zona 0 yakni Core Habitat sebagai zona hunian/tempat tinggal secara vertikal. Zona 1: Edible Threshold sebagai zona pangan privat di unit hunian (balkon). Zona 2: Agro Commons sebagai zona pertanian bersama di area rooftop. Zona 3: Productive Land sebagai zona pertanian bersama skala besar (soilbased), dan Zona 4: Wild Buffer sebagai area pengembangan vegetasi non pangan. Rafi pun yakin dengan menggunakan konsep itu dapat membuat 135 unit tipe 24 dan 90 unit tipe 36. “Total hunian bisa 225 unit.”
Dalam pengembangannya Growing Habitat juga dapat menyediakan cooperative housing yang berdiri dari warga dan untuk warga. Sebuah sistem untuk menunjang perawatan dan operasional fasilitas agrikultur, mengatur fasilitas di dalamnya dengan sistem koperasi bersama. Adapun komoditas sayuran yang dapat ditanam dan dikelola antara lain jika menggunakan sistem hidroponik maka yang dipelihara bisa merupakan sayuran cepat panen seperti sawi dan pokcoy. Sementara jika menggunakan soilbased maka sayuran buah seperti tomat dan cabai, atau tanaman obat keluarga (Toga) seperti kunyit, jahe, dan lainnya, serta tanaman merambat seperti buncis dan kacang panjang bisa menjadi pilihan.
Rafi pun tak menyangka, idenya mampu membawanya sebagai juara 1 dalam ajang BTN Housinhgpreneur 2025. "Ada kepuasan karena konsep yang saya usung, yang fokus pada hunian berkelanjutan dan adaptif ternyata bisa diterima dengan baik oleh para juri dan praktisi industri," ucap Rafi. "Semoga konsep ini bisa diterapkan di Indonesia dan bisa mencapai ketahanan pangan.”
Ke depan, Rafi berharap inovator-inovator muda di bidang perumahan dapat terus berkarya memberikan kontribusi terhadap inovasi perumahan di Indonesia. "BTN Housingpreneur menjadi wadah untuk inovasi-inovasi tersebut. BTN Housingpreneur menjadi pengalaman saya yang sangat berharga karena bertemu orang-orang luar biasa dari berbagai disiplin ilmu yang disatukan melalui housing (perumahan)," kata Rafi.
Ilustrasi konsep hunian Growing Habitat. Dok. BTN
Konsep Hunian Kolaboratif Solusi Lahan Terbatas Jakarta
Sementara itu, beberapa permasalahan Kota Jakarta menjadi perhatian Arsitek PT Arkitekton Limatama, Nadhila Syahriandy, untuk menghadirkan TerraGriya: Hunian (griya/rumah) yang membumi (terra), nyaman, dan berkelanjutan. Dirancang untuk menikmati iklim tropis serta kehijauan yang menenangkan, dengan hiruk pikuk kesibukan Jakarta, sekaligus membangun kebersamaan yang harmonis bersama para tetangga.
Jakarta, kata Nadhila, merupakan kota metropolitan yang menjadi pusat kegiatan bisnis dan lapangan kerja, sehingga dihuni oleh masyarakat dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Tingginya harga hunian di pusat kota mendorong banyak pekerja untuk tinggal di luar Jakarta meskipun harus menempuh perjalanan komuter yang panjang. Selain itu, masyarakat Indonesia pun masih cenderung memilih landed house dibandingkan apartemen karena kedekatannya dengan tanah serta keberadaan halaman.
Ilustrasi konsep hunian Terra Griya. Dok. Terra Griya
Sementara untuk mendapatkan hunian di Jakarta, lahannya sangat terbatas dengan harga yang mahal dan sempit. Belum lagi Jakarta juga minim area hijau. Diketahui Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Jakarta hanya 5–6 persen sehingga membatasi akses terhadap ruang hijau yang berdampak pada kesehatan mental serta fisik.
Selain itu, tingginya sifat individualis di Jakarta, sering kali menimbulkan perasaan terasing atau kesepian terutama bagi warga pendatang. Sedangkan jika tidak tinggal di Jakarta, waktu habis dalam menempuh perjalanan dari rumah ke kantor yang bisa menempuh 1-3 jam perhari.
Ilustrasi konsep hunian Terra Griya. Dok. Terra Griya
Nadhila mengatakan, jika membeli landed house maka pembeliannya umumnya dilakukan secara individu dengan kepemilikan lahan. Sementara jika berupa hunian vertikal mendorong kebersamaan dalam kepemilikan, sehingga penggunaan lahan menjadi lebih efisien serta biaya pembangunan dan perawatan lebih terjangkau.
Nadhila menawarkan inovasi 'Hunian Kolaborasi' untuk mengatasi masalah hunian di Jakarta. Hunian kolaborasi adalah hunian vertikal yang mendorong kebersamaan dalam kepemilikan, sehingga penggunaan lahan menjadi lebih efisien serta biaya pembangunan dan perawatan lebih terjangkau.
"Dengan sistem sewa yang dikelola oleh individu, kelompok, atau perusahaan, hunian ini diharapkan dapat diterapkan di berbagai titik kota dan memberikan fleksibilitas tempat tinggal bagi penghuninya," ujar dia.
Nadhila mengatakan, konsep ini memiliki tiga prinsip, yaitu compact, flexible, dan share. Compact artinya seluruh kebutuhan hunian terakomodasi, mencakup aktivitas individu seperti istirahat, tidur, mandi hingga area servis, storage dan ruang hijau. Sementara flexible menyuguhkan tata ruang yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing. Seperti ruangan untuk keluarga kecil, lansia, atau ruang untuk melukis. Sedangkan share menghadirkan beberapa area bersama seperti ruang hijau mendorong interaksi antarwarga dalam pembentukan komunitas sebagai wujud manusia sebagai makhluk sosial.
"Jadi dalam satu lahan terdapat beberapa penghuni untuk membentuk interaksi agar melahirkan rasa kebersamaan dan bertetangga,” kata Nadhila. Lokasi yang dipilih berada di Jalan Kebon Kacang, Jakarta Pusat, dengan posisi yang sangat strategis. Kawasan ini terletak di pusat kota serta dekat dengan jalan utama, perkantoran, pusat perbelanjaan, dan transportasi publik, serta berdekatan dengan area perumahan dan rumah susun
Menurut Nadhila, inovasi ini mencoba memberi solusi seideal mungkin untuk permasalahan hunian di hiruk pikuk Kota Jakarta, seperti keterbatasan lahan, lamanya berkendara yang menghabiskan waktu dan energi, minim ruang hijau dan rasa individual yang terjadi di kehidupan Jakarta. "Jadi inovasi ini sangat cocok dan memungkinkan direalisasikan pada kondisi saat ini karena relevan dengan keadaan di Jakarta dan sistemnya membuat biaya lebih efisien dalam pembangunan," kata peraih Juara 2 Kategori House Design-Business Ideation (Umum) BTN Housingpreneur 2025 ini. (*)
















































