Mengapa Ketegangan Masih Bayangi Iran di Piala Dunia 2026

2 days ago 4

PENYERANG tim nasional Iran, Mehdi Taremi, mengkritik kebijakan visa Amerika Serikat yang menurutnya menciptakan ketegangan menjelang Piala Dunia 2026. Ia menilai penolakan visa terhadap sejumlah anggota delegasi Iran telah mengurangi atmosfer persahabatan yang biasanya terasa dalam turnamen sepak bola terbesar dunia itu.

Piala Dunia 2026 digelar bersama oleh Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada. Namun persiapan Iran menuju turnamen tersebut tidak berjalan mulus karena situasi perang yang melibatkan negaranya serta persoalan visa dengan pemerintah Amerika Serikat.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Iran tiba di kamp pelatihan mereka di Tijuana, Meksiko, pada Ahad pagi, 7 Juni 2026, setelah terbang dari Antalya, Turki. Awalnya, Team Melli berencana menjadikan Tucson, Arizona, sebagai pusat latihan selama turnamen. Namun atas rekomendasi FIFA, mereka memindahkan lokasi tersebut ke kota perbatasan Meksiko.

Meski seluruh pemain dan staf berhasil memasuki Meksiko, sebanyak 14 anggota staf Iran dilaporkan tidak memperoleh visa untuk masuk ke Amerika Serikat. Padahal, seluruh pertandingan Iran pada fase grup akan berlangsung di wilayah Amerika Serikat. "Saya sudah mengikuti tiga Piala Dunia dan biasanya begitu Anda tiba di negara tuan rumah, selalu ada suasana yang unik, penuh keramahan dan semangat global," kata Taremi seperti dikutip dari ESPN.

"Sayangnya saya tidak merasakannya saat ini. Ada banyak ketegangan di Piala Dunia kali ini. Anda bisa merasakannya dari atmosfer yang ada dan sayangnya itu disebabkan oleh tindakan seperti penolakan visa. Mungkin itu hanya perasaan pribadi saya," ujar pemain yang musim lalu membela Inter Milan tersebut.

Iran akan menghadapi Selandia Baru pada laga pertama fase grup di Inglewood, California. Enam hari kemudian mereka akan bertemu Belgia. Setelah itu mereka akan melawan Mesir di Seattle pada 26 Juni 2026.

Wakil Presiden Federasi Sepak Bola Iran, Mehdi Mohammed Nabi, termasuk di antara pejabat yang tidak memperoleh visa. Menurut dia, tim tidak hanya terdiri atas pemain dan pelatih, tetapi juga staf teknis serta manajemen yang mendukung operasional tim. "Kami masih terus mengupayakan persoalan visa ini bersama FIFA. Tidak boleh ada diskriminasi dalam olahraga. Semua orang harus diperlakukan setara dan kami berharap masalah ini segera terselesaikan," kata Nabi.

Departemen Luar Negeri Amerika Serikat menyatakan bahwa visa yang diperlukan bagi para pemain dan staf pendukung utama Iran telah diterbitkan. Namun pemerintah AS menegaskan tidak akan membiarkan sistem visa digunakan untuk memasukkan orang-orang yang dianggap memiliki tujuan lain di luar kepentingan olahraga. Pemerintah Amerika Serikat tidak memberikan penjelasan mengenai kasus setiap individu yang ditolak.

Persiapan Iran menuju Piala Dunia juga terganggu oleh konflik yang pecah sejak akhir Februari lalu. Setelah serangan udara yang dilakukan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran, ketegangan di kawasan meningkat dan berdampak pada aktivitas olahraga di negara tersebut.

Kompetisi domestik Iran sempat dihentikan sehingga tim nasional harus memindahkan pusat latihan ke Turki. Keikutsertaan Iran di Piala Dunia sempat dipertanyakan, tetapi FIFA terus menegaskan bahwa negara itu tetap akan tampil di turnamen. Meski begitu, Nabi mengatakan fokus tim tetap tertuju pada sepak bola. "Para pemain kami profesional. Mereka fokus pada latihan, program, dan pertandingan, bukan pada hal-hal yang terjadi di luar," ujarnya.

Penyerang Iran lainnya, Alireza Jahanbakhsh, mengakui situasi tersebut tidak mudah dihadapi. Menurut dia, para pemain harus terus memantau kondisi keluarga dan kerabat mereka di tanah air di tengah konflik yang berlangsung. "Situasi ini sangat sulit bagi kami semua. Anda harus terus memeriksa kondisi keluarga dan orang-orang yang Anda cintai. Tentu saja itu memengaruhi tim," kata Jahanbakhsh.

Selain persoalan visa, Federasi Sepak Bola Iran juga mengungkapkan bahwa FIFA mencabut alokasi tiket pendukung Iran untuk tiga pertandingan fase grup di Amerika Serikat. Sebelumnya, Iran bakal memperoleh kuota tiket sekitar delapan persen dari kapasitas stadion. Laporan ESPN menyebutkan sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap Iran membuat penyelenggara yang berbasis di AS tidak dapat memproses transaksi yang dilakukan warga Iran. FIFA saat ini berupaya mencari solusi agar pendukung Iran yang tinggal di luar negeri tetap dapat membeli tiket dari alokasi tersebut.

Sekretaris Negara Amerika Serikat Marco Rubio mengatakan pemerintah akan mengawasi secara ketat delegasi Iran untuk memastikan tidak ada individu yang memiliki hubungan dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). "Kami tidak memiliki masalah dengan para atlet atau staf pendukung mereka. Namun kami tidak akan membiarkan orang-orang yang tidak terkait dengan olahraga dan memiliki hubungan dengan IRGC masuk melalui delegasi tersebut," kata Rubio. 

Gianni Infantino Lega

Presiden FIFA, Gianni Infantino, mengungkapkan rasa leganya setelah tim nasional Iran dipastikan tampil pada Piala Dunia 2026. Sejak awal, ia yakin Iran akan tetap ambil bagian dalam turnamen empat tahunan tersebut meski terganggu situasi geopolitik yang melibatkan negara itu.

"Ketika orang menilai tidak mungkin Iran datang ke Piala Dunia, saya memberitahu dan menjanjikan kepada mereka bahwa Iran akan datang. Bahkan jika saya harus mengemudikan bus dari Teheran ke sini, akan saya lakukan," kata Infantino.

FIFA terus menegaskan bahwa Iran tetap akan menjadi peserta Piala Dunia 2026. "Tentu saja selalu ada tantangan. Tentu saja itu tidak mudah. Saya tidak tahu lagi siapa yang bisa memberikan kepastian dalam kondisi saat ini yang tidak bisa kami pengaruh. Pada kondisi ini, Iran dapat datang dan bermain di mana pun mereka akan berlaga. Saya harap akan selalu ada atmosfer yang bagus karena ini adalah sepak bola,” ucap Infantino.

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |