KEPALA Badan Intelijen Negara atau BIN Muhammad Herindra mengimbau masyarakat untuk menjaga persatuan nasional. Pernyataan tersebut ia sampaikan merespons seruan aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) yang merencanakan aksi ‘Reformasi Jilid II’. Herindra berpesan singkat, tanpa mengomentari rencana tersebut.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
“Yang penting kita semua harus menjaga ya, persatuan-kesatuan. Jangan sampai ada hal yang tidak menguntungkan lah bagi kita semua,” kata Herindra saat ditemui di gedung Dewan Perwakilan Rakyat, Jakarta, pada Kamis, 11 Juni 2026.
Mahasiswa dari berbagai kampus kembali menguatkan konsolidasi nasional sebagai respons atas tekanan ekonomi, kenaikan harga kebutuhan pokok, pelemahan rupiah hingga berbagai kebijakan pemerintah. Istilah ‘Reformasi Jilid II’ kembali mengemuka saat BEM SI se-Jawa Tengah memberikan tenggat waktu 18 hari kepada pemerintah untuk menstabilkan nilai tukar rupiah yang sempat ambruk Rp 18.201 per dolar Amerika Serikat pada awal Juni kemarin.
BEM SI se-Jateng menyampaikan tuntutan itu saat melakukan aksi di depan kantor perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah di Semarang, Jumat, 5 Juni 2026. “Jika tuntutan itu tidak dipenuhi, mereka mengancam akan menggelar demonstrasi bertajuk Reformasi Jilid 2,” tulis unggahan kolaborasi BEM SI dan Story Rakyat.
Aliansi BEM SI sebelumnya menggelar konsolidasi nasional secara daring pada 4 Juni 2026. Forum itu membahas krisis ekonomi yang melanda Indonesia, terutama semakin merosotnya nilai tukar rupiah, pembengkakan fiskal, pengangguran, hingga kenaikan harga kebutuhan hidup dibahas dalam konsolidasi tersebut.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Indonesia Yatalathof Ma'shum Imawan mengatakan BEM UI akan melakukan konsolidasi untuk menyikapi kondisi ekonomi dan demokrasi rezim Presiden Prabowo Subianto belakangan ini. BEM UI, tutur Yatalathof, akan menggelar focus group discussion (FGD) dengan gerakan mahasiswa se-UI. Kemudian dilanjutkan dengan konsolidasi nasional.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah menghargai aspirasi dan masukan mengenai tuntutan kelompok mahasiswa agar pemerintah segera menguatkan nilai tukar rupiah.
Namun dia mengatakan persoalan perekonomian Indonesia saat ini tidak mudah untuk diatasi. "Tentu dipengaruhi oleh banyak faktor," katanya di Kompleks DPR, Jakarta, pada Senin, 8 Juni 2026.
Dia berujar, pemerintah berupaya keras dapat segera menyelesaikan problem nilai tukar rupiah yang belakangan melemah. Prasetyo optimistis langkah yang diambil pemerintah mampu mengatasi permasalahan ekonomi nasional.
"Dengan koordinasi yang erat, intens, dan kebijakan yang saling memperkuat satu sama lain, juga hari ini memberi kepastian kepada para pelaku usaha," kata politikus Partai Gerindra ini.
Eka Yudha Saputra dan Novali Panji Nugroho berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Pilihan editor: Mengapa Gerakan Mahasiswa Sekarang Layu Sebelum Berkembang















































