KBRI Gelar Ramah Tamah di Dili, Satukan Megawati dengan Ratusan WNI dan Simpatisan

1 day ago 4

INFO TEMPO – Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Timor-Leste menggelar acara makan malam dan ramah tamah yang mempertemukan Presiden Kelima RI, Megawati Soekarnoputri, dengan ratusan warga negara Indonesia (WNI) yang bermukim di Kota Dili dan sekitarnya. Acara diselenggarakan di Rumah KBRI Dili, Kamis, 9 Juli 2026 malam waktu setempat.

Megawati mengaku tersentuh karena merasa berada di rumah sendiri saat berada di gedung KBRI Dili. Dia meminta agar gedung KBRI selalu terbuka dan menjadi rumah yang mengayomi seluruh rakyat Indonesia di sana. 

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Megawati juga mengingatkan seluruh warga yang hadir untuk selalu menjaga kehormatan bangsa dan bangga dengan identitas Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia. Dalam kesempatan itu, dia pun mengaku sangat terharu dengan ikatan batin yang tidak pernah putus tersebut. 

Megawati kemudian mengumumkan rencana pembentukan Dewan Pimpinan Luar Negeri (DPLN) PDI Perjuangan di Timor-Leste agar koordinasi komunikasi dengan kader lokal yang menetap di Dili dapat terwadahi secara demokratis dan terstruktur.

Dia juga berencana mengirimkan salah satu Ketua DPP-nya, Rokhmin Dahuri selaku pakar kelautan dan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, untuk melakukan riset dan meninjau langsung potensi kemakmuran ekonomi di Pulau Atauro yang berbatasan langsung dengan Maluku Barat Daya.

Dia juga sempat membagikan memori awal mula persahabatannya yang unik dengan Perdana Menteri Xanana Gusmão yang bermula dari secarik surat yang dikirimkan secara rahasia dari balik jeruji penjara di masa lalu. Megawati menyampaikan cerita kedekatan dirinya dengan Xanana maupun Presiden Ramos Horta.

"Saya dengan beliau berdua menjadi sahabat lama, dan alhamdulillah mereka berdua masih dapat saya temui dengan sehat hari ini. Dan kami juga berkeinginan untuk kita semua maju bersama," ujar Megawati.

Sementara itu, beberapa perwakilan eks pengurus PDI masa lalu diberikan kesempatan naik ke atas panggung untuk membagikan refleksi dan catatan sejarah mereka.Testimoni pertama dibawakan oleh Martin Anastasio, mantan pengurus PDI Perjuangan Timor Timur periode 1996–2000. 

Martin mengenang kembali beratnya dinamika politik serta berbagai upaya tekanan dan intimidasi yang harus dihadapi para pengurus partai di daerah menjelang gejolak referendum 1999. Di tengah berbagai situasi sulit yang menguji kesetiaan tersebut, Martin menegaskan bahwa dirinya bersama pengurus lain memilih untuk tetap teguh mematuhi Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi serta instruksi pusat dari Ketua Umum. 

"Saya tetap memilih jalan organisasi. Saya lebih rela meminta Mama Megawati harus hadir langsung ke Timor Timur saat itu untuk membantu meneduhkan situasi dan menyelesaikan permasalahan yang ada," kata Martin.

Kesaksian lain datang dari Cesar Aleixo Brandao, mantan Ketua Ranting PDI-P Kecamatan Atauro (Pulau Kambing). Begitu mendengar info dari Sekretaris PDI Provinsi kala itu, Roni Hutagaol, bahwa "Mama Mega" mendarat di Dili, Cesar rela bertaruh menyeberangi lautan selama tiga jam menggunakan kapal dari Pulau Atauro demi bisa hadir di KBRI.

Cesar menceritakan kisah perjuangannya yang penuh risiko saat menghadapi berbagai interogasi dan penahanan dari aparat keamanan setempat di masa lalu akibat situasi politik Dili yang memanas. Karena bersikers memegang mandat "jalan tengah" yang mengedepankan perdamaian sesuai arahan Megawati, Cesar harus melewati masa-masa sulit di dalam tahanan.

"Saya mengalami banyak sekali ujian fisik dan mental saat itu, tapi saya bersyukur karena Tuhan Yang Mahakuasa tetap melindungi saya," ujar Cesar sambil menahan haru.

Dalam kesempatan itu, Cesar turut membuka catatan yang terjadi pada bulan Juli sebelum referendum 1999. Di bawah pantai kawasan Farol, Megawati sempat menggelar pertemuan singkat selama 15 menit dengan para calon legislatif lokal untuk memberikan arahan internal. Di sanalah, Megawati menyampaikan pesan kedamaian yang mendalam yang hingga kini disimpan rapat di dalam dada Cesar.

"Ibu Megawati berbicara begini: 'Seandainya kalau masyarakat Timor Timur mau memilih merdeka, kita harus menghormati itu hak-hak mereka.' Kata-kata Ibu itu yang mengajarkan kami tentang esensi demokrasi dan masih saya simpan di sini," kata Cesar.

Adapun acara makan malam yang diorganisasi dengan apik oleh KBRI Dili ini ditutup dengan pekik "Merdeka!" yang diteriakkan lantang oleh Megawati dan dijawab kompak oleh ratusan WNI.

Acara ini juga dihadiri Puti Guntur Soekarno, Romy Soekarno, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP Bintang Puspayoga, Ahmad Basarah, Andreas Pareira, dan Andi Widjajanto. Hadir juga barisan warga lokal Timor-Leste yang merupakan mantan pengurus PDI Timor Timur sebelum referendum pemisahan tahun 1999. (*) 

Read Entire Article
Bogor View | Pro Banten | | |