BADAN Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menandatangani kontrak pembangunan dua Kapal Riset Nasional (KRisNA) melalui proyek internasional Construction of a New Multipurpose Ocean Going Research Vessel and New Coastal Research Vessel. Proyek senilai 88 juta euro tersebut akan membangun satu kapal riset samudra dan satu kapal riset pesisir.
Kepala BRIN Arif Satria mengatakan pembangunan dua kapal riset baru itu merupakan langkah strategis untuk mendukung penelitian kelautan dan memperkuat penguasaan data laut Indonesia. “Saya kira kapal ini sangat penting sekali untuk mendukung riset di bidang kemaritiman,” katanya usai acara penandatanganan di Kantor BRIN B.J. Habibie Jakarta, Kamis, 11 Juni 2026.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Arif mengatakan pembangunan dua kapal riset dilakukan melalui kontrak dengan perusahaan galangan kapal asal Prancis, Chantiers Piriou. Proyek itu juga mendapat dukungan pembiayaan dari Agence Française de Développement (AFD), lembaga pembangunan milik pemerintah Prancis.
“Banyak tema-tema riset yang bisa dilakukan, berkaitan soal blue economy, food security, kemudian juga untuk climate resilience, begitu pula dengan diplomasi maritim,” tuturnya. “Karena laut kita sangat luas dan kita negara kepulauan, maka tidak ada cara lain selain kita memperkuat data-data yang ada di laut. Ini yang harus kita kuasai,” ujarnya.
Untuk mendapatkan data itu, kata Arif, tak ada cara lain selain memperkuat fasilitas riset seperti armada. “Jadi armada ini nanti akan digunakan untuk riset dan akan melibatkan banyak periset-periset tidak hanya BRIN, tapi kami juga mengundang para periset dari perguruan tinggi,” tambahnya.
Direktur Pengelolaan Armada Kapal Riset BRIN Nugroho Dwi Hananto menjelaskan kedua kapal tersebut dirancang dengan teknologi yang lebih mutakhir dibanding armada yang saat ini dimiliki BRIN. “Bedanya peralatan yang kita install lebih canggih untuk bisa memetakan kedalaman laut secara keseluruhan, mengambil sampel-sampel biota, geologi, dan juga batuan,” katanya.
Nugroho mengatakan kedua kapal tersebut akan mendukung berbagai penelitian di bidang geosains kelautan dan biodiversitas, termasuk kajian stok ikan (fish stock assessment) dengan memanfaatkan metode terkini seperti Environmental DNA (eDNA).
Kapal-kapal itu juga dirancang sebagai platform riset yang dapat mengoperasikan beragam peralatan ilmiah mutakhir, mulai dari Remotely Operated Vehicle (ROV), Autonomous Unmanned Vehicle (AUV), hingga instrumen pengamatan dasar laut seperti Ocean Bottom Seismometer (OBS), Ocean Bottom Hydrophone, dan Ocean Bottom Electromagnetic.
Saat ini BRIN mengoperasikan lima kapal riset, yakni Baruna Jaya 1, 2, 3, 4, dan 8. Menurut Nugroho, penambahan dua kapal baru diperlukan karena sebagian besar armada yang ada telah berusia sekitar 40 tahun dan teknologinya mulai tertinggal.
Selain pembangunan dua kapal tersebut, BRIN juga tengah menyiapkan skema Kerja Sama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU) bersama Bappenas dan Kementerian Keuangan untuk pengelolaan operasional armada riset serta pembangunan kapal baru lainnya.
Wakil Kepala Misi Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, Timor Leste, dan ASEAN Fabrice Fize menyebut proyek tersebut merupakan hasil dari kemitraan jangka panjang Indonesia dan Prancis di bidang riset dan maritim. “Ini merupakan warisan dari kemitraan jangka panjang kami di bidang riset. Ini juga menjadi tonggak penting dalam kerja sama bilateral, baik dalam penelitian ilmiah maupun kerja sama maritim,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Negara AFD Yann Martres mengatakan lembaganya bangga dapat mendukung proyek pembangunan kapal riset nasional tersebut melalui skema pembiayaan dan penguatan kapasitas. “Kami berharap dalam waktu dekat dapat melihat kedua kapal ini berlayar dan melakukan penelitian demi masa depan Indonesia dan BRIN,” ujarnya.















































